Showing posts with label kata bersayap. Show all posts
Showing posts with label kata bersayap. Show all posts

Monday, November 10, 2014

PAGI KINI



Pagi kini,

Membuka kembali mata jiwa

Mengedip malu-malu, menyapa

Kembalikan asa pada langkah-langkah hampa



Pagi kini,

Batu berbisik merdu

Pada siput yang merangkak di semisal sendu

Pada ulat yang menggeliat giat di balik perdu

Pada si dungu yang menunggu

Ah, manisnya…


Monday, August 4, 2014

Lajang Bukan Jalang (Bukan Puisi)






Tak peduli sebesar apapun pencapaian dalam hidup, karir, emosi, setinggi apapun keinginan mewujudkan mimpi, menjadi seorang lajang akan terus jadi sasaran malu keluarga.

Menjadi seorang lajang adalah sebuah kesalahan memalukan hingga semua anggota berlomba mencarikan pasangan si penyelamat rasa malu dan kehormatan keluarga.

Monday, May 5, 2014

BELUM SAMPAI CINTA (bisa surat terbuka, bisa juga tidak)

http://lindsaybmoore.files.wordpress.com/2010/08/fantasy_books.jpg










Belum sampai cinta. Karena telah lama aku tak bersua dengannya. Aku di sini, ia di sana. Mengejar mimpinya. Romansa SMA? Sepertinya tidak. Karena saat dulu pun, yang kami lakukan tak lebih dari tegur sapa.



Belum sampai cinta. Tapi aku menghormatinya. Bukan hanya karena usia yang lebih dewasa, tapi hampir segala lakunya yang bijaksana. 

Monday, April 14, 2014

Aditya Madya Prakarsa. Sebuah goresan tentangnya

Aku merindukan saat itu. saat bersamanya. Seorang saudara yang kini berada di surga, semoga. Aditya Madya Prakarsa, namanya. Penopang, sahabat, kakak tercinta.

Bertemu dengannya saat SMA. Merajut kisah dengannya hingga hembus nafas terakhirnya. Tak terhitung peristiwa menyenangkan, menegangkan, mengharukan, kebodohan, dan kekonyolan yang sudah sadar/ tak sadar telah dilalui bersamanya.

Betapa aku merindukan saat kami menjadi bocah autis bersama, manulis berlembar-lembar puisi berantai ditemani sebungkus besar Lays dan kokakola di depan kos Kertajaya. dari pagi hingga petang. mengenang, menertawakan kekonyolan-kekonyolan kami semasa SMA, mencegat setiap penjual makanan yang lewat depan kos-kosan.

Friday, February 14, 2014

JANGAN BACA, GILA!

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFzwgTsqAMMwRXVr_lEBv2zjxPHdONlcpeZBPh0nCE7wKmE7xHUrMh-5jmwnxUosuDhv6rlJFi0QQ2tLrFUvNjI79ywtmV4lJjV9_EL-nNKSVaiIsTf_nWlg-O2_sUJNTLmy4MQrY93t-n/s400/Gone+crazy+sign.jpg




Jangan pandang mataku,
                        Karna aku gila!
Jangan dengar bisikku,
                        Karna aku gila!
Jangan ikuti langkahku,
                        Karna aku gila!
Jangan tertawa,
                        Karna aku gila!
Lalu,
Kenapa kau masih membaca tulisanku??
KARNA KAU JUGA GILA!!


*) hanya ORANG GILA yang bisa baca

                                                                                 



                                                                                                    Surabaya, 11 Okto 2004



nemu puisi ini di diktat kuliah.. wheww ternyata saia dulu juga pernah "gila" kek gini yah kkkkk

Thursday, June 7, 2012

[Tak Berjudul]




Legam,

Saat hasrat mulai tergenggam

Menari dalam dekapan temaram

Meliuk,

Mengutuk nurani yang terpuruk

Menggoda,

Menista tiap jiwa yang menggila

Menggeliat,

Hingga tertambat pada penat

Gelisah,

Pasrah pada pilihan arah





Pojok Perpustakaan Matsanba, 5 Juni 2012


Thursday, March 29, 2012

PUISI: Pengertian dan Jenisnya

Pengertian Puisi dari Beberapa Ahli Bahasa
Tarigan (dalam Djososuroto, 2006:10), mengatakan bahwa kata puisi berasal dari bahasa Yunani “poeisis” yang berarti penciptaan. Dalam bahasa Inggris disebut poetry yang berarti puisi, poet berarti penyair, poem berarti sajak atau syair. Arti yang semacam ini lama-kelamaan dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kata-kata kiasan”. Dapat dikatakan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan, berbeda dengan prosa yang diungkapkan melalui pengucapan dengan pikiran.

Pengertian lain dikemukakan Zulfahnur (1996:79) bahwa puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) seseorang tentang kehidupan manusia, alam, dan Tuhan dengan media bahasa yang indah yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya, dalam bentuk teks.

Sejalan dengan pemikiran Najid (2003:14), puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Puisi adalah jenis sastra imajinatif yang mengutamakan unsur fiksionalitas, nilai seni, dan rekayasa bahasa.

Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dengan pemilihan kata-kata kias/imajinatif (Waluyo, 2005:1).

Puisi menurut (Tjahjono, 2000:1) ialah sebagai pembentuk, pembangun atau pembuat, karena memang pada dasarnya dengan menciptakan sebuah puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin.

Pradopo (2005:7), menyatakan bahwa puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan berirama. 

Ada ahli yang berpendapat bahwa puisi ialah hal mencari dan melukiskan “yang diidamkan” (the idea). Dengan demikian tujuan isi bukanlah melukiskan kebenaran, melainkan memuja kebenaran dan memberi jiwa suatu gambaran yang lebih indah. Unsur keindahan dalam puisi satu diantaranya adalah rasa (Djososuroto, 2006:10). 

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pengertian puisi ialah proses kreatifitas atau pencurahan ekspresi manusia dengan bahasa sebagai alatnya yang dituangkan atau diwujudkan dalam sebuah tulisan. 

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Dalam hal ini puisi dapat dikatakan sebagai perwujudan kepekaan seseorang terhadap alam dan kehidupan dalam usaha mengadakan komunikasi dengan orang lain. Puisi diartikan sebagai “membuat” di atas “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 2002:134).

Seperti yang telah diketahui, puisi berbeda dengan prosa. Perbedaan yang utama ialah pada proses penciptaan masing-masing karya sastra itu. Di dalam puisi akan berlangsung beberapa proses yang tidak begitu terasa di dalam prosa, proses tersebut adalah (1) proses konsentrasi yaitu segenap unsur puisi (unsur musikalitas, unsur korespondensi, dan unsur bahasa) dipusatkan kepada satu permasalahan atau kesan tertentu, (2) unsur intensifikasi, unsur-unsur puisi itu berusaha menjangkau permasalahan atau hal yang lebih mendalam atau mendasar, dan (3) proses pengimajian adalah sesuatu yang juga menjadikan puisi (musikalitas, korespondensi, dan bahasa) berfungsi menciptakan atau membangun suatu imaji atau citra tertentu. Jika sebuah kata di dalam prosa cenderung mengikut makna denotatif (makna harfiah) maka sebuah kata di dalam puisi justru cenderung meninggalkan makna denotatif tersebut dan membentuk makna yang berbentuk konotatif. Kata “bulan” di dalam sebuah prosa akan berbeda artinya dengan “bulan” di dalam sebuah puisi.

Jenis Puisi Menurut Aminudin
(1)   Puisi epik, yakni puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawanan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah. Pusii epik dibedakan antara folk-epic, yakni bila nilai akhir puisi itu untuk dinyanyikan dan literary-epic, yakni bila nilai akhir puisi itu untuk dibaca, dipahami, dan diresapi maknanya. Najid (2003:14), juga mengartikan bahwa puisi epik adalah puisi yang disampaikan oleh penyair dalam bentuk cerita. 

(2)   Puisi naratif, puisi yang di dalamnya mengandung suatu peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Termasuk dalam puisi naratif adalah apa yang disebut dengan balada, yang dibedakan antara folk ballad, dengan literary ballad, sebagai suatu ragam puisi yang berkisah tentang kehidupan manusia dengan segala macam penghasilannya, kecemburuan, kedengkian, ketakutan, kepedihan dan keriangannya. 

(3) Puisi lirik, puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Jenis puisi lirik umumnya paling banyak terdapat dalam khazanah sastra modern di Indonesia seperti tampak dalam puisi-puisi Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, dan lain-lain. 

(4)   Puisi dramatik, yakni salah satu jenis puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu. Dalam puisi dramatik dapat saja penyair berkisah tentang dirinya atau orang lain yang diwakilinya lewat monolog. Najid (2003:14) menyatakan bahwa puisi dramatik adalah puisi yang berisi analisis seseorang baik yang bersifat historis, mitos, atau fiktif ciptaan seorang penyair. 

(5) Puisi satirik, puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun masyrakat. Puisi satirik merupakan puisi yang bersifat penggembalaan, bersifat memberi petunjuk, pedoman-pedoman hidup terutama oleh gembala atau pemimpin agama. Contoh dalam puisi ini adalah “Seombak Jagung di Kamar” miliknya W.S. Rendra. 

(6) Puisi didaktik, puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya tertampil eksplisit.

(7)   Puisi romande, puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap kekasih. Puisi ini biasanya selalu bersifat romantis seperti milik puisi W.S. Rendra yang berjudul “Surat Cinta”. 

(8)   Puisi ode, puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawanan. Puisi ode merupakan puisi pujian terhadap seseorang atas suatu hal atau suatu keadaan. Jenis puisi banyak ditemukan zaman dahulu saat pahlawan Indonesia merebut kemerdekaan. Contoh puisi ini misalnya “Ode” milik Toto Sudarto Bahtiar. 

(9) Puisi elegi, puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedihs seseorang. Puisi ini biasanya mengisahkan tentang kematian seseorang. Contohnya ialah “Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu” milik Amir Hamzah. 

(10) Himne, puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta terhadap bangsa ataupun tanah air. Contoh puisi ini adalah “Selain Cahaya Matamu” karya Saini. K.M.


Dari: berbagai sumber plus bantuan dari  jenk Fitri


           

Saturday, November 19, 2011

Dongeng Pagi


Kemarin, di bukit ini aku mendengar pagi bercerita pada batu

Tentang seorang pujangga yang tak mampu mencinta

Raganya terkubur dalam-dalam

Dalam mantra yang tak sengaa tercipta olehnya

Tapi hasratnya masih terus berkelana, mencari seorang wanita

Perawan yang sebulan lalu menebas hati, jiwa, dan lehernya

Pagi bercerita, pada batu

Betapa sang pujangga melukis seribu puisi

Yang terukir di hamparan perdu, jati, mahoni, bahkan trembesi

Yang kata orang telah ratusan tahun berdiri

Hanya untuk wanitanya, yah, hanya untuk wanitanya

Wanita yag akhirnya memaksanya tunduk pada kehampaan

Aku masih mendengar pagi bercerita, pada batu

Sampai malam

Hari ini kudengar lagi, pagi berkisah pada batu, sperti kemarin

Masih tentang pujangga, yang kini tak lagi mencari

“Pujangga itu kini” kata pagi

Sedang duduk di atasmu mendengarku berkisah tentangnya.


Puisi begadangQ..(=,=”)
Pacet, 09 Desember 2009
@Penulisan kreatif Camp PR06 JBSI

Malaikat Tak Bersayapku





Kata Orang malaikat bisa terbang,
Malaikatku tidak, tapi dia mampu mengantarku ke surga

Kata orang malaikat punya sayap,
Tapi malaikatku,
Tak pernah kulihat sepasang sayap bertengger di punggungnya
Ah, mungkin tertinggal di surge

Kata orang malaikat itu kuat,
Ya, malaikatku juga, tapi tak selamanya

Malaikatku kini merapuh, sinarnya kini meredup
Suaranya yang dulu menenangkan, kini tinggal rintihan
Tangan yang dulu selalu memelukku, kini gemetar tak berdaya

Aku tak ingin malaikatku pergi,
Meski sejengkal dariku
Aku ingin kembalikan senyumnya, semangatnya
Meski ia tak bersayap sperti malaikat lainnya

Tuhan, Bantu aku mewujudkannya.

Pojok kelas JBSI lt.2, 30 Okto 2009
_tugas uts mk. Penulisan Kreatif_