Showing posts with label Fanfiction. Show all posts
Showing posts with label Fanfiction. Show all posts

Thursday, March 29, 2012

Birthday Felicity [생 일 선 물]


Aku mencintainya. Dengan sepenuh hati. Tak bersisa. Mencintai dia. Hingga kini, ia  tersimpan rapi di relung hati.

Kisahku berawal dari Surabaya, kota kecil di negara Indonesia. Kalian tahu? negara itu jauh lebih besar dari negara kita, Korea Selatan. Aku baru tahu negara itu saat jutaan Elf dari Indonesia membanjiri timeline twitterku sebelum akun itu terpaksa ku tutup.

Waktu itu, menjelang natal kami berkesempatan untuk konser SS4 dan menyapa elf di Surabaya sekaligus berlibur hingga tahun baru di kota pahlawan itu. Seusai reharsal dan kembali ke hotel aku merasakan bosan yang sangat menyebalkan.  Akhirnya kuputuskan berjalan-jalan dengan membawa Pinky, gitar akustik kesayanganku. 

Meskipun tak tahu harus kemana, kuturuti saja kemana kakiku ingin melangkah. Akhirnya aku sampai di atap hotel itu. Ternyata pemandangan malam di sini sangat indah, tak kalah dengan Seoul. Gitarku mulai kumainkan. Lagu kesukaanku, Love’s romance. Udara malam yang sejuk di sini sedikit demi sedikit menaikkan moodku dan membuat perasaan menjadi nyaman.  

Aku begitu asyik memainkan gitarku hingga tak kusardari ternyata aku tidak sendiri di sini. Seorang gadis memperhatikanku dari jarak yang tak begitu jauh. Tak lama gadis itu mendekatiku. Sepertinya dia baru bangun tidur.

“Maaf Tuan di sini bukan tempat umum. Anda dilarang bermain gitar dan mengganggu ketenangan di sini” kata gadis itu dengan mata setengah terbuka. Lucu sekali. 

Aku yang memang sudah belajar bahasa Indonesia mengerti perkataannya. Sepertinya dia pegawai hotel ini yang sedang membolos mencuri-curi waktu istirahat di sini. 

“Benarkah? Apa  yang kau maksud mengganggu ketenangan itu mengganggu tidurmu?” gadis itu kaget.

“Bukan begitu! Tempat ini memang tertutup untuk umum” jawabnya salah tingkah.

“Aah, begitu ya? Apa tempat ini tertutup agar tak ada yang tahu ada yang sedang membolos kerja dan mencuri waktu untuk tidur di sini?” aku menggodanya. Reaksinya ternyata di luar dugaanku. Gadis itu semakin salah tingkah tak mampu berkata apa-apa dan wajahnya perlahan bersemu merah.  Terlihat cantik sekali. Jujur kuakui, aku terpesona.

“Sudahlah, aku tak akan membocorkan rahasiamu” aku tersenyum padanya.  Ia tak bisa menyembunyikan raut kelegaan di wajahnya. Lugu sekali, pikirku.

“Tapi ada syaratnya” aku tersenyum licik. Aku tak bisa menahan diri untuk menggodanya. 

“Kau mau mencoba memerasku, Tuan Tamu??” wajahnya seketika berubah menjadi kesal.

“Hahaha, tidak tidak. Syaratku sangat mudah”

“Baiklah, apa?”

“Kau harus berbagi tempat ini denganku dan antarkan aku jalan-jalan  ke tempat menarik di sini”

“Heh! Kalo mo becanda kira-kira dong! Aku kan harus kerja. Mana bisa aku mengantarmu jalan-jalan” dia semakin kesal.

“Masa kau harus bekerja 24 jam? Kan kau bisa mengantarku saat kau libur” 

“Iya iya iya. Kalau aku libur akan kuantar kau” dia mengaku kalah.  Entah mengapa senang sekali aku berbincang dengan gadis ini, meskipun hanya menggodanya.

“Oh iya nona, namamu siapa? Jaga-jaga kalau kau ingkar janji biar aku bisa segera melaporkanmu ke managermu”

“Eish!! Denger  yah Tuan kalau saya sudah  janji nggak bakalan saya ingkari. Suer deh!! nggak percayaan banget sih jadi orang”

“Heiii. Aku kan tanya namamu. Kenapa jawabnya malah ngelantur kemana-mana? Aku Sungmin”

“Aku Lefie, eh tunggu siapa namamu? Sungmin? Kkk kau..  Jangan bilang kau menginap di lantai 20” raut mukanya berubah pucat. 

“Iya, memang kenapa?” aku heran.

“Jadi kau Sungmin member Super Junior dong? Kenapa kau, eh anda bisa berbahasa Indonesia?” sekali lagi dia salah tingkah.

“Memangnya kenapa kalau aku member Suju? Ah, jangan-jangan kau ini juga elf ya?”

“Bukan begitu. Anda adalah tamu VVIP di hotel kami. Jadi saya meminta maaf sebesar-besarnya atas sikap kurang sopan saya tadi”, gadis itu membungkukkan badannya.

Entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman dengan perubahan sikapnya yang jadi sangat menghormatiku. Aku lebih suka dengan sikapnya tadi sebelum tahu siapa aku sebenarnya. 

“Huh! Ternyata kau sama saja” tanpa sadar aku jadi kesal dengan perubahan sikapnya.

“Sama apanya Tuan?” dia tak mengerti.

“Kau mau mencoba menjilatku ya? Tiba-tiba bersikap superbaik seperti itu” kataku mencoba memancing emosinya.

“Apa maksud anda dengan mencoba menjilat?” gadis itu sepertinya berusaha keras menahan emosinya.

“Kau ingin uang dariku kan?”

“Heh! Tuan VVIP!! Saya mungkin memang orang yang nggak tahu tau sopan santun! Mungkin sikap saya tadi salah. Tapi saya nggak pernah punya pikiran menjilat tamu sekedar untuk uang tip tahu!! Saya masih punya malu! Terserah kalau anda mau  melaporkan saya!” gadis itu beranjak pergi.

“Tunggu tunggu!! Hei hei.. Calm down! That’s  just a joke! Ternyata kamu cepat sekali ya marahnya” aku menarik tangannya sambil tertawa. Tapi sepertinya gadis itu masih tak percaya dengan ucapanku.

“Hei! Aku tadi cuma bercanda kok! Sungguh! Really!” aku membentuk huruf V dengan kadua jariku sambil tersenyum lebar.

“Tapi cara bercanda anda sangat keterlaluan Tuan” gadis itu mulai percaya meskipun masih cemberut.

“Iya iya aku minta maaf. Tapi aku juga kesal sekali padamu tadi”

“Iya. Saya juga minta maaf. Sikap saya tadi tidak sopan”

“Bukan itu! Aku tidak suka sikapmu yang sekarang! Aku suka sikapmu yang tadi. Yang apa adanya” aku menekuk alisku.

“Hah?” dia masih tidak mengerti.

“Bukannya kau sembunyi di sini untuk melarikan diri? Aku juga! Aku juga bosan harus bersikap manis terus” aku mengalihkan topik  pembicaraan.

“Lalu?” dia menyipitkan matanya.

“Berarti kalau di sini kau bukan karyawan dan aku bukan tamumu ataupun artis. Bagaimana?”

“Hmm, baiklah” 

“Dan satu lagi. Jangan pernah memanggilku dengan sebutan Tuan”

“Sepakat! Ahahaha. Kau terlalu imut kalau dipanggil Tuan” gadis itu tertawa. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba saat melihatnya tertawa serasa perutku ada seribu kupu-kupu, rasanya seperti ingin melayang.

Tiba-tiba ponselnya berdering dan Lefie bergegas pergi.

“Sepertinya aku harus kembali bekerja. Senang bertemu denganmu” gadis itu tersenyum. 

“Tunggu, besok kau bekerja?”

“Kebetulan besok aku libur. Tapi aku tak bisa mengantarmu jalan jalan. Aku harus ke suatu tempat”

“Aah, kau kerja di bagian apa? Nomor hpmu berapa? ”

“Aku di pastry. Ini” dia menuliskan nomornya di secarik kertas dan memberikannya padaku. 

Begitulah awalku bertemu dengannya, Lefie.  Gadis karyawan hotel biasa.
*********


Esoknya aku tak bisa bertemu dengannya karena memang hari itu SS4 digelar. Kami baru bisa kembali ke hotel tengah malam. Tapi entah mengapa aku begitu ingin mendengar suaranya. Akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya. 

“Halo?” di seberang terdengar suara laki-laki yang menjawab. Perasaanku langsung diliputi rasa cemburu. Siapa pria ini?

“Benar ini nomor Lefie?”

“Iya benar. Siapa nih? Lefienya nungguin kakaknya di rumah sakit Mas. Hapenya ketinggalan” Lefie ternyata punya kakak yang sedang dirawat di rumah sakit.

“Ah, lalu ini siapa?”

“Saya sepupunya. Lha mas ini siapa?” untunglah cuma sepupu, batinku lega.

“Saya temannya. Kalau dia pulang tolong sampaikan tadi Sungmin meneleponnya” aku menutup sambungan telepon.

Ooh, jadi ini alasannya dia tidak bisa mengantarku.
* * *


Keesokan sorenya kami bertemu lagi di balkon hotel. Tapi kali ini dia tidak bolos kerja. Jam kerjanya memang sudah selesai. jadi dia bisa bebas. Kami bercerita banyak sambil menunggu matahari terbenam. Ternyata dia tidak punya orang tua. Dia hanya memiliki seorang kakak laki-laki, dan sekarang kakaknya dirawat karena memiliki penyakit jantung. Dia menumpang tinggal di rumah bibinya sejak rumah peninggalan kedua orang tuanya harus dijual untuk pengobatan kakaknya. Dia terpaksa bekerja untuk membiayai kuliahnya.

Gadis itu menceritakan kisahnya dengan santai. Namun aku tahu, pasti sudah tak terhitung berapa kali ia menangis, mengeluarkan air mata menghadapi cobaan hingga ia merasa kebal seperti ini. Ingin sekali aku memeluknya, memberikan ketenangan dan rasa nyaman. Aku ingin bisa membantunya meskipun hanya meminjamkan pundak untuknya bersandar. Tapi yang bisa kulakukan sekarang hanya mengelus pelan kepalanya. Dia tersentak kaget dengan perlakuanku hingga mata kami mata kami saling bertemu. Tanpa sadar suasana di sekitar kami berubah menjadi canggung.

“O iya. aku besok libur lho. Jadi aku bisa menepati janjiku mengantarmu jalan-jalan”

“Uwaa.. Benarkah?” Gadis itu mengangguk.

“Tidak harus menunggu kakakmu di rumah sakit?” Gadis itu terdiam sejenak lalu tersenyum lagi.

“Gwaenchana. aku bisa minta tolong sepupuku sehari saja. Uwaaaah, mataharinya mulai tenggelam. Indahnyaaaa” Lefie tiba-tiba berseru dengan mata berbinar-binar. Melihatnya seperti itu tak bisa kutahan senyumku. Andai saja ia tahu, ia terlihat jauh lebih indah dari matahari yang tenggelam.

“Ne, jinjja yeppeoda” kataku sambil menatap wajahnya.

“Iya, cantik” tatapannya menerawang.

“Wow, your Korean skills was improved”

“Tentu saja. Aku belajar dengan keras. Aku kan tidak mau sampai kau bodohi dengan bahasa Koreamu itu” katanya bangga sambil menepuk dada, lucu sekali. 

Kami tertawa bersama. Membicarakan banyak hal, merencanakan jalan-jalan kami besok sambil menikmati malam kota Surabaya dari atap hotel.
*******


Esoknya kami janjian pukul 5 pagi di belakang hotel. Kami harus keluar sepagi itu untuk menghindari Elf stalker yang siap membuntuti kemanapun member Suju pergi. Tujuan pertama kami Taman Bungkul. kata Lefie, kuliner pagi di sana tak terkalahkan enaknya ^^. Awalnya kami mencoba nasi pecel, kemudian Lefie membelikanku semanggi khas Suroboyo.  makanan ini terbuat dari daun semanggi yang dimasak dan dicampur dengan saus kacang yang pedas.

“Ini apa?”

“Semanggi Suroboyo. Enak, coba deh” dia menyuapkan sesendok padaku. Hmm, Enak. aku mengangguk setuju.

“Semanggi itu apa?”

“Clover, fortune leaf” dia tersenyum.

“Mwo? Clover?? You must be kidding me! You guys eating clover? that’s grass!” aku memuntahkan semanggi dari mulutku.

“Ahahaha, tapi kau mengakui kalau ini enak kan” dia tertawa. 

“Meskipun cuma rumput, kalau diolah dan dibumbui dengan benar, hasilnya menakjubkan bukan?! seperti kami warga Surabaya. Meskipun kami memiliki banyak keterbatasan, tapi jika kami berusaha keras, kami pasti bisa meraih impian kami” dia tersenyum dan kembali menyuapkan semanggi ke mulutku. Anehnya aku tidak lagi merasa jijik malah benar katanya, makanan ini sangat enak. *hehehe, reader juga kalo ke Surabaya wajib ngicipin semanggi Surabaya nih =P*

Hari itu kami menghabiskan hari dengan mengunjungi banyak tempat menarik dan mencoba aneka macan kuliner Surabaya. kami mengunjungi House of Sampoerna, Museum Santet, makan bebek Mercoon, rujak cingur, hingga tak sadar sudah hampir di penghujung hari.

“Wah, hari ini menyenangkan sekali. Ayo kuantar kau kembali ke hotel” katanya sambil memakan arumanisnya.

“Aku punya satu permintaan lagi. Antarkan aku ke tempat kakakmu” Gadis itu menghentikan langkahnya. Kaget dengan keinginanku.
******

Seperti rumah sakit lainnya, kamar itu juga identik dengan warna putih. Disana terbaring seorang pemuda. Tertulis di papan identitas pasien namanya Praditya. Wajahnya tampan dan berkulit bersih. Tampaknya dia seumuran denganku. Sepertinya dia tidur nyenyak tapi langsung membuka mata saat tahu ada kami di sampingnya. Lefie mencium kening Praditya, yang dicium hanya tersenyum. Manis sekali.

“Mas Pradit, ini Sungmin, teman baru Lefie” Praditya tersenyum ke arahku.

“Hei. Senang berkenalan denganmu” aku memegang tangannya.

Praditya memandangku dan Lefie bergantian. Kemudian dengan isyarat tangan dia memintaku mendekat padanya.

“Kau orang baik” bisiknya. “Maukah kau menjaga Lefie, adikku, untukku?” Aku, tidak. Tepatnya aku dan Lefie kaget dengan perkataannya. Tapi akhirnya aku mengangguk juga.

“Mas Pradit bicara apa sih?” Lefie salah tingkah. Tapi entah kenapa aku merasa senang dan bangga dipercaya oleh kakaknya.

Ternyata Praditya orang yang menyenangkan, seperti adiknya. Meskipun dia kesulitan berbicara tapi tetap mampu berinteraksi dengan baik. Tak memerlukan waktu lama bagiku untuk menyukai dan menyayanginya seperti keluargaku sendiri.
****


Hari demi hari di Surabaya kulewati bersama Lefie. Meskipun hanya sekedar bertemu di atap hotel ataupun mengunjungi kakaknya, Praditya di rumah sakit. Para member juga tahu kalau aku menyukainya. Tak jarang mereka mengolokku dan Lefie. Tapi kami hanya tersenyum menanggapinya. 

Suatu hari saat kami berbincang di atap hotel. Kami disadarkan pada kenyataan bahwa aku bukan orang Indonesia dan harus kembali ke negaraku, Korea.

“Kapan kau kembali ke Korea?” Lefie tiba-tiba bertanya.

“Tanggal 5 Januari. Seminggu lagi” jawabku. lalu kami berdua hanya terdiam. Lama.

“Aku pasti merindukanmu” katanya memecah keheningan.

“Sama. Aku juga”

“Kau teman yang baik, Sungmin-ssi” dia tersenyum.

“Dan kau gadis yang baik Lefie. Kau gadis paling sempurna yang pernah kutemui” kugenggam tangannya. Kami sama-sama tersenyum. Tanpa sadar wajah kami saling mendekat. Bibir kami bertemu. Aku menciumnya. Bibirnya terasa lembut sekali. Aku merasa sangat beruntung dia tidak menolakku.

“That was my first kiss” dia tersenyum.

“Akan ada yang kedua, tiga, dan seterusnya” aku memeluknya.

“Lusa hari ulang tahunku. Aku menyiapkan makan malam setelah acara fanmeeting. Kau datang ya” dia tersenyum dan mengangguk.

Ah, rasanya hari ini adalah hari terbaik yang pernah kualami di Indonesia. Aku menemukan wanita terindah sebagai kado ulang tahun terindah dalam hidupku. Kueratkan pelukanku padanya. Kami menghabiskan malam dalam diam.
*****

Tapi, bukan cerita cinta namanya jika tak ada cobaan. Keesokan harinya Lefie tak datang ke atap hotel seperti biasanya. Kupikir dia ada pekerjaan tambahan di pastry. Tapi dia juga tak muncul saat dinner ulang tahunku. Saat kuhubungi hpnya tak aktif. Aku menantinya hingga hari berganti. Dia pasti datang. Aku yakin.

“Sudahlah Sungmin a. Kembalilah ke kamar. Dia tidak mungkin datang. Ini sudah pukul 2 pagi. Sudah tak ada orang lagi di sini” Donghae yang mengkhawatirkanku menyusul ke ballroom. Tapi tak kuhiraukan perkataannya.

Paginya kuhubungi pihak hotel mencari informasi tentang Lefie. Ternyata dia tidak masuk bekerja dari kemarin. Tanpa alasan. Saat kuminta alamatnya, pihak hotel tidak memberikan dengan alasan privasi hotel.

Akhirnya kuputuskan ke rumah sakit tempat Pradit dirawat. Sesampainya di sana aku diikejutkan dengan bertita yang membuat sekujur tubuhku lemas. Praditya telah meninggal dunia. kondisinya menurun drastis pada tanggal 31 dan terus memanggil Lefie. Akhirnya Pradit tak bisa melawan penyakitnya dan menghembuskan nafas terakhirnya sore itu juga. 

Tidak mungkin! Itu saat Lefie bersamaku! Adit meninggal saat Lefie bersamaku. Saat Pradit begitu membutuhkan kekuatan dari adiknya aku malah memonopolinya untukku sendiri. Ini semua karena keegoisanku. Memikirkan itu semua dadaku terasa sangat sesak. Tanpa sadar air mataku menetes dan tak bisa berhenti mengalir. Aku membunuhnya! membunuh Praditya. Membunuh kakak dari wanita yang paling kucintai. Aku menyesali keegoisanku. Andai aku tahu kalau keadaannya seperti ini. Tak mungkin kubiarkan Lefie bersamaku. Tak akan mungkin kubiarkan berakhir seperti ini. Aku mengutuki diriku sendiri. 

Aku mendapatkan alamat rumah Lefie, tapi kakiku tak mampu kulangkahkan ke sana. Aku merasa sangat takut, sangat berdosa meskipun hanya sekedar bertemu dengannya. Aku hanya mengurung diriku di kamar hotel. Member yang mengetahui keadaannku menghibur dan mengatakan bahwa ini bukan salahku. Semua ini memang sudah takdir  Tuhan yang tidak dapat dilawan oleh manusia. Tapi perkataan mereka tak mampu menghentikanku untuk terus menyalahkan diriku sendiri. Aku pernah berjanji pada kakaknya untuk menjaga Lefie. Tapi apa yang kulakukan? Aku malah merusak kehidupannya. Memisahkannya dengan kakak yang paling dicintainya.
******


Akhirnya aku kembali ke Korea tanpa bertemu dengan Lefie lagi. Aku kalah dengan rasa bersalahku, dengan ketakutanku sendiri. Di Korea ternyata aku tetap tak bisa melupakan dia. Tetap merindukannya. Tiap hari, menit, detik. Perasaan ini mekin menyiksa dan membuatku sulit bernafas. Keadaan ini otomatis membuat pekerjaanku kacau pula. Tak satupun pekerjaan yang bisa kuselesaikan dengan baik seperti biasanya. Hal ini terus berlangsung selama sebulan. 

Hingga suatu hari Eeteuk menasehatiku.
“Sungminnie, kalau kau mencintainya. Kembalilah padanya. Katakan apa yang ada di hatimu”

“Apa maksudmu?”

“Gadis itu. Kau terlalu mencintainya hingga terlalu menyalahkan dirimu atas kematian kakaknya. Kau sampai merusak dirimu sendiri. Kalau kau begiri terus kau bisa merusak karirmu juga” Aku hanya terdiam.

“Aku tahu mungkin agak tak pantas membicarakan karir. Tapi coba lihat dirimu sekarang. Kau tak ubahnya mayat hidup! Mungkin kau tak merasakannya. Tapi ELF di luar sana semua mengkhawatirkanmu. Mengkhawatirkan perubahanmu. Kau membuat mereka bersedih”

Aku mulai memikirkannya. Benar juga. 

“Kalau kau seperti ini terus kau akan makin menyakiti banyak orang. Bukankah kita, Super Junior berjanji memberikan kebahagiaan untuk sahabat kita, EverLasting Friends?” Suara Eeteuk mulai bergetar karena emosi. Air mataku juga mulai mengalir.

“Bagaimana mungkin kau memberikan kebahagiaan pada mereka kalau kau sendiri tidak bahagia? Jawab aku Sungminnie!” Lanjut Eeteuk yang entah sejak kapan menangis juga.

“Aku salah. Maafkan aku”

“Maka dari itu, buat kebahagiaanmu sendiri. Kejar dia. Kembalilah ke Indonesia. Sampaikan perasaannmu pada gadis itu. Aku menunggu saat kau bisa tersenyum lagi seperti dulu” Eeteuk menghapus air matanya dan menepuk pundakku lalu pergi. 

Dia benar. Aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak boleh mengecewakan orang-orang yang telah mendukungku. Besok aku akan menemui kebahagiaanku.
*************


Akhirnya aku berada di sini juga. di depan rumah gadis yang paling kucintai. kulihat gadis itu duduk di ayunan depan rumahnya. dia terlihat sangat kaget ketika melihatku. aku mendekatinya.

“Lama tak bertemu Sungmin-ssi” Lefie tersenyum.

“Bogoshipo. I miss you”
********


Akhirnya kami sampai di depan pusara Praditya. Terdapat beberapa karangan bunga yang masih segar di atasnya. 

“Mas Pradit, Lefie balik lagi” katanya pelan.

“Tebak siapa yang ikut denganku kemari? ini Sungmin” lanjutnya.

“Hai Dit, ini aku. Maafkan aku yang baru berani menemuimu sekarang” kataku pelan. Lefie menolah padaku heran.

“Maafkan aku karena tidak menepati janjiku untuk menjaga adikmu. Aku terlalu takut. aku menyalahkan diriku sendiri atas kepergianmu. Harusnya Lefie berada di sisimu di saat-saat terakhirmu. tapi aku malah bersikap egois dan memintanya bersamaku. aku bukan orang yang baik, Dit. ternyata aku jahat.”

Lefie tak bisa menahan tangisnya dan jatuh terduduk.

“Kalau saja aku tahu waktu itu kau membutuhkannya, aku pasti tak akan mengganggu waktu kalian berdua. Maafkan aku” Aku menangis dan berlutut di pusaranya.

“Jadi ini alasanmu kembali ke Korea tanpa memberi kabar padaku? Kau menyalahkan dirimu sendiri” katanya.

“Ini bukan salahmu Sungmin-ssi. Ini memang sudah takdir Tuhan. Mas Pradit sudah lama menderita. mungkin ini saatnya Tuhan memanggil dia untuk menemukan kebahagiaan abadi. Kau jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini” dia menggenggam tanganku.

“Aku tak pernah bermaksud meninggalkan Indonesia tanpa pamit padamu. tahukah kau di sana rasanya aku tak bisa hidup. yang memenuhi pikiranku hanyalah kau, Lefie. bagaimana perasaanmu saat itu? bagaimana kehidupanmu setelah ditinggalkan Praditya? Apakah kau bisa tersenyum seperti dulu? semua pikiran itu  menggangguku Lefie.”

“Aku ingin menebus dosaku, Fie. Aku pernah berjanji pada kakakmu untuk menjagamu. apakah janji itu masih berlaku untukku? Apakah kau mau menerimaku Fie?” kugenggam tangannya, berharap jawabannya seperti yang kuharapkan.

Gadis itu mengangguk.

“Aku tak pernah membencimu Singmin-ssi. Aku  menunggumu. Aku percaya kau pasti akan kembali. jika kau memang benar-benar mencintaiku” Gadis itu tersenyum.

“Terima kasih. Terima kasih telah mempercayaiku kembali” kupeluk dia erat.

“Aku selalu mempercayaimu. Selalu” dia tersenyum.

Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Kucium dia lembut. Dengan ciuman ini kuperbarui lagi janjiku pada kakaknya. Janjiku untuk membuat adiknya bahagia. Selamanya.

Inilah Kisah Cintaku. ^^

Tuesday, December 6, 2011

Devil Inside the Breeze (File 3)



@ Sukira…

“89,1 KBS Cool FM, Kiss The Rrrrrrrradiooooooo!!!” Kata Eeteuk dan Eunhyuk bersama.

“Annyeong  yeorobundeuuuuullll!! Bagaimana hari kalian? Semoga masih semangat yah, seperti kami, duo suju tergokil dan ternista yang pernah ada, hahaha. Seperti biasa kami akan menemani kalian selama dua jam penuuuuuuhhh…..”

“Wakakakakkak,,, ente kemasukan setan wolferine yah hyung??? au au bgono”

“Kagak yooohh,, eke mah kerasukan kucienk racuuuuoonnn” *sebelum digaplok reader, author minta maap telah menistakan mereka bDua (_ _ )v*

“Jiah, jadi bencyong die.. wahhahahaha.  Betewee hyung, tahu tidak hari ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa loh, loh, loh,” kata Eunhyuk lebay *Mampus, digorok reader gw >.<*

“Whaaaw, nugu? Nugu? Nuguyaaaaa??” Eeteuk tidak kalah heboh.

“Kalian tahu, yeorobuuuunnn??? Sekarang Korea sedang demam novel Summer Breeze?? Naaaah, penulis yang kita tahu tidak pernah tampil di acara manapun ini mau menyempatkan diri ke Sukira loh, Siapa diaaa??? Kita sambit, eh sambuuuuttt…. Soffie Hwang!! Osso oseyo Soffie-ssi”

Raut muka Eeteuk seketika berubah tegang begitu mengetahui siapa sebenarnya ‘tamu’ di acara mereka.
Perempuan mengenakan full black outfit itu duduk di sebelah Eunhyuk dan memakai headphone yang disediakan untuknya.

“Ne, kamsahamnida Eunhyuk-ssi. Annyeong haseyo. Soffie Hwang Imnida. Bangapseumnida.”

“Waah, nomu kamsahamnida Soffie-ssi, sudah mau datang ke program kami. Dangshin jinjja yeppeodaa” Eunhyuk memuji Soffie yang hanya dibalas senyuman.

Eeteuk yang sedari tadi diam tersadar karena bisikan Eunhyuk yang memberitahu sekarang gilirannya bicara, namun ia tetap tak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia memaksakan diri tersenyum.

“Annyeong haseyo Soffie-ssi” kata Eeteuk kaku.

“Ne”

“Cha!! Seperti yang kita semua tahu, novel Soffie-ssi yang terbaru sukses besar di sini, bisa beri sedikit komentar Soffie-ssi?” pinta Eunhyuk.

“Ne, ehm… Sebelumnya terima kasih sudah menyukai novel saya. Sebenarnya novel saya awalnya bukan berjudul Summer Breeze, tapi Devil Inside the Breeze. Seperti yang kalian baca, novel ini menceritakan tentang seseorang yang diperlakukan bak malaikat karena kebaikannya, tapi di dalamnya ternyata seorang yang sangat busuk” kata Soffie dengan pandangan tajam ke arah Eeteuk.

“Waah, iya benar. Waktu aku membacanya sempat  heran juga. Kok ada ya yang seperti itu? Kejahatan si malaikat tergambar jelas di sana tapi orang-orang di sekitarnya tak ada yang menyadari. Memangnya apa yang menginspirasi anda hingga bisa terpikir hal-hal yang out of blue seperti ini?”

“Out of blue? Haha, tidak juga. Tentu saja pengalaman. Inspirasi terbaik dari seorang penulis adalah pengalaman” Soffie kembali  melirik Eeteuk.

“pengalaman? Berarti memang ada orang yang sejahat seperti di novel anda di dunia nyata?”

“tentu saja, bisa dibilang cerita di novel itu sebagian besar kisah nyata”

“Ah, algessimnida. Tapi di akhir cerita agak menggantung. Apa anda mau membuat sekuelnya?”

“Anda jeli sekali Enhyuk-ssi” kata Soffie tersenyum.

“Benar, saya akan membuat kelanjutannya. Saya belum tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Karena itu saya khusus datang ke Korea untuk mencari tahu” lagi-lagi pandangan tajam Soffie terarah ke Eeteuk yang diam membisu.

“Wah, benar-benar membuat penasaran” Eunhyuk tersenyum kaku sambil memberikan isyarat pada Eeteuk karena sekarang gilirannya bertanya.

“Ah, Ne. Soffie-ssi, Kami dengar anda baru kembali ke Korea ya? Sebelumnya anda tinggal di Indonesia” Eeteuk memulai pembicaraan.

“Ne” jawab Soffie singkat.

“Kalau boleh tahu dalam rangka apa anda kembali ke Korea?” Eeteuk bertanya tanpa menatap wajah Soffie.

“Sepertinya rekan anda tidak mendengarkan perkataan saya sebelumnya Eunhyuk-ssi” Soffie melirik Eunhyuk yang terheran-heran dengan suasana yang tiba-tiba berubah manjadi kaku.

“Saya kembali ke Korea karena ingin menyelesaikan kisah saya Eeteuk-ssi. Saya ingin bertemu tuan malaikat dan menanyakan bagaimana seharusnya kisah saya berakhir. Karena ini kisah nyata saya sendiri”

“Ah, jweisonghamnida Soffie-ssi. Di sini dikatakan anda tinggal di Indonesia sejak umur 7 tahun. Bagaimana kehidupan anda disana?”

“Anda ingin tahu kehidupan saya sebelumnya Eeteuk-ssi? Lebih buruk dari gelandangan di Korea. Saya dijual keluarga saya demi uang. Dipaksa hidup bersama keluarga kaya yang dingin. Akhirnya saya melarikan diri dan hidup jadi gelandangan hingga remaja. Saya tidak malu menceritakannya di sini. Kehidupan yang seperti ini yang membentuk saya menjadi kuat. Dan sekarang melalui siaran ini saya ingin memberitahukan pada Tuan Malaikat kalau saya masih hidup dan tak akan membiarkannya hidup bahagia”

Eeteuk yang kaget mendengar kisah Soffie hanya terdiam tak mampu berkata apa-apa. Akhirnya Eunhyuk yang mengambil alih pembicaraan.

“Waah, sepertinnya makin seru wawancara kita dengan sang penulis misterius. Tapi harus kita potong dulu, karena PD-nim sudah melambay2kend tangan yang artinya kita kudu istirahat.. hahaha. Jangah pindah frekuensi yeorobundeul, karena kita akan kembali setelah commercial break yang satu iniiiiiiiiiii” Eunhyuk mematikan tombol on air.

“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus saya katakan. Terima kasih atas wawancaranya”  Soffie tiba-tiba bangkit dan melepas headphone nya.

“Tunggu. Kita belum closing Soffie-ssi” cegah Enhyuk.

“saya yakin anda berdua DJ profesional. Pasti bisa closing tanpa narasumber, bukan begitu, TUAN MALAIKAT??” katanya sambil mendekati Eeteuk. Membuat Eunhyuk tercengang.

“Kalau anda juga penasaran dengan akhir cerita novel saya eunhyuk-ssi, silakan anda tanyakan sendiri pada tuan malaikat yang tidak lain leader anda sendiri” Soffie meninggalkan studio tanpa menjelaskan apa-apa lagi, membuat eunhyuk semakin penasaran.

“Hyung, apa yang terjadi?”
Eeteuk yang sedari tadi diam tiba-tiba bangkit keluar menyusul Soffie. Dia menemukan perempuan itu berjalan ke arah pintu keluar. Eeteuk menahannya.

“Jisoo-ya, kenapa kau jadi seperti ini?” Eeteuk memelas.

“Jadi seperti apa? Iblis maksudmu? Heh, aku hanya meneruskan sifat iblis yang mengalir di darahku, Park Jungsoo. Kau yang lebih tahu itu” Soffie melanjutkan jalannya.

“Tunggu! Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Eeteuk menghadang Soffie.

“Apa yang kuinginkan? Tentu saja kehancuranmu” gadis itu tersenyum sinis.

“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Eeteuk cemas.

“hehehe, ternyata kau takut juga ya? Aku memiliki dua pilihan untukmu. Tinggal pilih saja. Kau keluar dari Super Junior dan menghilang sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, atau aku yang akan membongkar masa lalumu yang menjualku demi uang?” perempuan itu melipat tangannya di dada untuk menghilangkan gemetarnya.

“Jisoo-ya… waktu itu aku tak bermaksud…”

“Sudahlah… tak perlu repot-repot menjelaskan padaku. Waktumu satu bulan. Pikirkan baik-baik tuan Malaikat” perempuan itu berlalu pergi meninggalkan Eeteuk.

Eunhyuk yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka segera mendekati Eeteuk

“Hyung, ada apa ini sebenarnya? Kenapa wanita itu memanggilmu tuan malaikat? Kenapa kau memanggilnya Jisoo? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa dia begitu membencimu?”

“Hwang Jisoo, dia adikku” Eeteuk tertunduk.

“Mwo????”

_to be continue_

skrip asli 7 Januari 2011
pindahan dari "rumah sebelah"

Devil Inside the Breeze (File 2)



“Masih ingat padaku Park Jungsoo?”

“K..Kau?”
Gadis itu hanya diam menatap Eeteuk dingin.

“Jisoo-ya.. Kau sudah pulang… Aku sangat merindukanmu” Eeteuk mendekat  hendak memeluk Soffie, gadis yang dipanggil Jisoo oleh Eeteuk, namun gadis itu menghindar dengan sengit.

“Jangan berani-berani menyentuhkan tangan kotormu di tubuhku!” gadis itu menyipitkan matanya.

“Baiklah, kalau kau masih marah padaku, Arasso. Syukurlah, sepertinya kau sehat-sehat saja. Oppa senang.
Tapi bagaimana kau bisa tahu apartemen Oppa?”

“Oppa kau bilang?! Kau masih berani menyebutkan kata itu di depanku? Tebal sekali mukamu!”

“Jisoo ya…” wajah Eeteuk berubah memelas.

“Kau tak tahu malu Park Jungsoo! Setelah bertahun-tahun menelantarkanku. Kau masih berani bertebal muka hah!! Ingat Park Jungsoo, kau yang membuangku…”

Gadis itu berhenti sejenak, mengontrol emosinya. Gelas yang sedari tadi dipegangnya ditaruhnya kembali di meja.

“Hmm… Pertanyaan yang bagus. Bagaimana aku tahu tempat tinggalmu?” gadis itu mendekati Eeteuk hingga nyaris tak ada jarak diantara mereka.

“Aku mengetahui semua tentangmu Park Jungsoo”

“Bersiaplah. Karena aku akan membuatmu merasakan apa yang sudah kurasakan selama 15 tahun ini. Aku akan membuatmu merasakan kesedihan hingga nafasmu terasa sesak dan jantungmu enggan berdetak!” Gadis itu mendesis.

Eeteuk ingin sekali memeluk gadis itu. meskipun saat ini mereka nyaris tak berjarak, tetap saja terlihat jurang kebencian diantara mereka.
Gadis itu beranjak pergi, tapi Eeteuk menghalanginya.

“Kau mau kemana?”

“Apa pedulimu!”

“Kau tinggal dimana? Biar kuantar”

“Huh, tenang saja. Aku tak akan jauh-jauh darimu. Aku tak ingin melewatkan sedikitpun ekspresi penderitaan dan rasa bersalahmu Park Jungsoo” katanya dengan senyum sinis yang sempurna menghias bibirnya.

Gadis itu pergi  meninggalkan Eeteuk yang masih tertegun…

@ @ @
Kamar 1005

Gadis itu menutup pintu perlahan. Tubuhnya bergetar hebat. Kakinya kini tak lagi mampu menopang tubuhnya. Gadis itu jatuh terduduk.

Gadis itu memeluk dirinya sendiri rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menghentikan ketakutannya. Air mata kini mulai  menggenangi pelupuk matanya, namun dengan cepat air mata itu kembali mengering. Ia telah berjanji tidak akan pernah menangis lagi demi seorang Park Jungsoo.
Dikeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor speed dial…

“Ne…” suara di seberang.

“Oppa…”

“Jisoo-ya… Kau sekarang dimana?” tanya suara di seberang cemas.

“Oppa… Aku bertemu dangannya…” Suara Soffie makin terdengar bergetar. Membuat lawan bicaranya semakin cemas.

“Kau dimana sekarang? Apa di apartemen?”

“mm…”

“Aku kesana sekarang” laki-laki itu menutup sambungan telepon.

@ @ @
Laki-laki itu memasuki kamar apartemen Soffie tergesa-gesa. Ia memasuki ruangan dan mencari gadis yang begitu dicintainya. Ia menemukan Soffie duduk meringkuk ketakutan di ruang tamu. Dengan sigap dipeluknya gadis itu untuk mengurangi rasa ketakutannya.

“Jisoo ya, Oppa di sini. Jangan takut lagi” katanya sambil mengelus kepala soffie pelan.

“Oppa, katakan padaku aku bisa melewati ini. Oppa, katakan…”

“Pasti! Kau pasti bisa melewati ini. Kau adik Oppa yang paling kuat. Jangan takut lagi. Oppa akan selalu melindungimu” laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.

Dipapahnya gadis itu ke tempat tidur. ia menunggui hingga gadis itu tertidur.

“Hwang Jisoo, kenapa kau harus memutuskan untuk melakukan hal ini? Pembalasan dendam ini terlalu kejam untukmu” ia mencium  kening Soffie, lalu beranjak keluar kamar.

“Kyuhyun Oppa, kau mau kemana?”

“Oh, kau terbangun? Oppa mau ke dapur mengambil minum. Kau mau minum juga?” tawarnya.
Gadis itu menggeleng dan memejamkan mata kembali.

@ @ @
Hyosung bersiap berangkat ke kantor saat ia melihat mobil Eeteuk dari dalam rumah.
Ia keluar rumah dan menemukan Eeteuk duduk terpekur di depan gerbangnya.

“Jungsoo ya, kenapa duduk di sini? Kanapa tidak masuk?”

“Hyosung ah, bogoshipo ” Eeteuk memeluk Hyosung erat.

“Jagiiiiiiii, aku mau berangkat ke kantor”  Hyosung melepaskan pelukan Eeteuk.

“Lagipula kenapa kau ke sini sepagi ini? Bukannya kau ada syuting?”

“Tidak jadi. Nanti sore baru ke studio.”

“Hmm… Ada apa? Kenapa kau bersikap aneh?”

“Aniya. Jagiya, aku ingin tidur di kamarmu sebentar” eeteuk berjalan masuk ke rumah diikuti Hyosung di belakangnya.

“Baiklah, tapi kutinggal ke kantor ya” Eeteuk hanya mengangguk.

“Oh iya. Aku tadi memasak sup iga sapi. Kalau kau lapar tinggal hangatkan di microwafe”

Hyosung buru-buru meninggalkan Eeteuk karena dia sudah terlambat.

@ @ @
Eeteuk terbangun karena Handphonenya berdering terus-menerus. Ternyata Eunhyuk yang meneleponnya.

“Ne…” Suara Eeteuk masih terdengar mengantuk.

“Hyung! Kau dimana? Dua jam lagi kita siaran! Manajer hyung sudah marah-marah ini…” kata Eunhyuk panik.

“Hmm.. katakan padanya aku akan sampai satu jam lagi.”

“Ppalli hyung. Sukira hari ini kedatangan tamu penting. ” kata Eunhyuk kemudian menutup teleponnya.

@ @ @
Sukira Studio

“Kau ini kemana saja, sih?” Manajer Eeteuk  memarahinya begitu ia sampai di sana.

“Mianhae Hyung, tak akan kuulangi lagi” katanya bergegas memasuki studio dan meninggalkan manajernya yang masih dongkol.

“Hyung! Kau darimana saja? Kenapa mukamu kusut banget?” Eunhyuk memberondong pertanyaan pada Eeteuk yang baru datang. Eeteuk hanya diam saja.

“Hmm…  Bukankah kemarin sudah berakhir bahagia Hyung? Hmm.. apa kau menginap di rumah Hyosung Nuuna??” Eunhyuk melirik Eeteuk.

“YAAA!!! Apa kemarin kau menguntitku lagi?” Eunhyuk hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Huh!! Dasar kau ini” katanya sambil menjitak kepala Eunhyuk.

“O iya, katamu akan ada tamu penting. Siapa?”

“Dia penulis terkenal yang misterius itu loh Hyung, Soffie Hwang. Katanya dia pulang ke Korea” Kata Eunhyuk langsung bersemangat. Eeteuk yang mendengarnya tersenyum.

“Dia penulis kesukaan Hyosung. Katanya dia tak pernah menunjukkan wajahnya di  depan publik ya…”

“Iya Hyung, makanya aku yakin setelah siaran ini rating Sukira pasti langsung meningkat pesat. Soalnya dia menampakkan diri pertama kali disini. Nanti aku minta foto ah,, hehehe” Eunhyuk cengar-cengir.

@ @ @
Sementara itu, di  luar gedung Sukira.

“Kau yakin tak ingin kutemani?” tanya Kyuhyun dari balik kemudinya.

“Tak usah Oppa. Jangan terlalu  memanjakanku” Soffie tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Kutunggu di luar saja”

“Oppa, bukankah hari in kau ada pertemuan penting?” soffie mengingatkan Kyuhyun.

“Tapi kau lebih penting dari urusan Oppa yang manapun” katanya mengelus kepala Soffie pelan.

“Andai dia sepertimu, Oppa” soffie kembali termenung.

“kalau kau mau memberinya kesempatan, Oppa yakin dia pasti juga akan menyayangimu”
Ekspresi Soffie seketika berubah tegang.

“Jangan pernah katakan hal itu Oppa. Jangankan kesempatan, memaafkan aku takkan sudi” Soffie beranjak keluar dari mobil.

“Oppa pergilah, kolegamu pasti menunggu. Aku tak apa sendiri.”

“Tapi kalau sudah selesai telepon Oppa ya, biar kujemput.”

“Arasso”
Gadis itu memasuki gedung KBS dengan percaya diri.

@ @ @
Breeze café…

Kyuhyun berjalan cepat mendatangi perempuan yang telah lama duduk di sana.
“Mianhamnida, Hyosung-ssi. Saya terlambat” Kyuhyun menyesal.

“Gwenchansemnida Kyuhyun-ssi. Anda adalah orang yang sangat disiplin. Kalau anda terlambat berarti memang ada hal yang sangat penting yang harus didahulukan” Hyosung tersenyum.

“Oke. Silakan dimulai presentasi anda”

“Baiklah, Konsep iklan untuk café anda yang saya susun seperti ini…” Hyosung memulai presentasinya untuk mempromosikan café milik Kyuhyun.

Kyuhyun yang menyukai konsep promosi Hyosung menyetujui dan langsung menandatangani kontrak kerja.

“Terima kasih Kyuhyun-ssi”

“Ne, sama-sama. Mohon kerja samanya”

“Saya benar-benar minta maaf masalah keterlambatan saya tadi Hyosung-ssi” Hyosung hanya tersenyum.

“Tak apa Kyuhyun-ssi. Hmm.. kalau boleh tahu, masalah apa yang sampai membuat anda sampai terlambat?”

“Saya mengantar adik saya interview ke Sukira.”

“Sukira? Jadi adik anda ingin bekerja di Sukira?”

“Aniya. Adik saya jadi tamu di sukira. Dia yang diwawancarai. hehe”

“Oooh” Hyosung tersenyum faham.

“Tapi saya baru tahu kalau anda punya adik Kyuhyun-ssi”

“Sebenarnya kami tak ada hubungan darah. Kami hanya dua orang yang sama-sama bertahan hidup di negeri orang. Waktu saya masih di Indonesia, saya belum memiliki apa-apa. Dialah yang selalu menyemangati saya.”

Hyosung mendengarkan dengan seksama. Dia bisa menangkap ada sesuatu yang lain dari cerita Kyuhyun.
“Kami sama-sama berusaha keras. Hingga akhirnya saya bisa mendirikan perusahaan seperti ini dan dia jadi novelis terkenal”

“Novelis?” tanya Hyosung tiba-tiba.

“Ya, novelis. Anda pernah dengar nama Soffie Hwang Hyosung-ssi? Dia adikku” kata Kyuhyun bangga.

“Soffie Hwang? Adikmu?? Oh maaf, adik anda? Saya salah satu pengemarnya!” Hyosung bersemangat.

“Benarkah? Haha.. Wah sepertinya dia terkenal di sini”

“Benar Kyuhyun-ssi. Dia memang terkenal. Tapi tak ada seorangpun yang tahu bagaimana wajahnya. Kyuhyun-ssi, maukah anda mempertemukan  saya dengan dia?”

“Haha, tentu saja. Setelah ini saya akan menjemputnya untuk makan siang. Kalau anda ingin bertemu dengan dia, silakan ke kantor saya besok. Dia besok di sana.” Kyuhyun tersenyum geli melihat Hyosung yang penasaran dengan adiknya.

“Kyuhyun-ssi. Anda pasti sangat mencintainya” kata Sangmi tiba-tiba. Hyosung kaget.

“Tentu saja” dia tersenyum.

“Aniyo. Maksud saya anda pasti mencintainya melebihi dari seorang adik” Hyosung tersenyum. Kemudian dia menyadari sesuatu.

“Oh, maaf kalau saya lancang” Hyosung malu.

“Tak apa. Hmm… Apa begitu terlihat?” Hyosung mengangguk.

“Dari cara anda bercerita tentang dia. Apa dia tahu?”

“Belum. Dia kembali ke Korea karena ingin menyelesaikan sesuatu dengan seseorang. Setelah itu aku  akan membawanya kembali ke Indonesia.” Kata Kyuhyun sambil melihat Sungai Han. Semoga rencanaku berhasil, batinnya.
@ @ @


_to be continue_
skrip asli 6 September 2010
pindahan dari "rumah sebelah" 

Devil Inside the Breeze (File 1)



Incheon Airport, International arrival gate…
Seorang perempuan berpakaian serba hitam keluar dari bandara. Dia berhenti sejenak di dekat tempat sampah. Membuang permen karet yang sedari tadi dikunyahnya sambil menggumamkan sesuatu.

“Park Jungsoo, kehancuranmu telah datang” katanya tersenyum sinis sambil memakai kacamata hitamnya, kemudian melanjutkan jalannya dan menghilang.

@ @ @
Di tempat lain, Studio 1 SBS…
Super Junior mempromosikan album keempat mereka…

“Uri Syupe Juni OEYO!!!” teriak kesepuluh member.

“Waah, Uri Super Junior, sudah mau meluangkan waktu datang ke acara kami, Nomu Kamsahaeyo” kata MC sekaligus menutup acara talk show sore itu.

@ @ @
Ruang ganti…

“Hyung, setelah ini schedulenya apa?” tanya Eunhyuk pada manajer Suju sambil melepaskan Mic dari bajunya.

“Setelah ini kosong. Kalian bisa beristirahat di dorm sampai besok siang.” Jawab manajer mereka dan langsung mendapat respon teriakan senang dari member.

“Hyung, bisakah kau menyuruh orang mengantar mobilku ke tempat biasa?” tanya Eeteuk pada manajernya.

“Kau tidak pulang ke dorm lagi hari ini?”

“Aniyo. Aku ada urusan. Mungkin sampai larut malam. aku tidur di apartemenku sendiri saja” jawabnya sambil memakai kostum penyamaran favoritnya, hoodie berwarna hitam lengkap dengan kacamata hitamnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyuruh orang untuk mengantar mobilmu”

“Gomawo Hyung” kata Eeteuk tersenyum.
Eunhyuk yang mendengar percakapan Eeteuk dan manajernya hanya menggelengkan kepala sambil mendekati hyung yang paling disayanginya itu.

“Kau tidak pulang ke dorm lagi hari ini?” tanyanya pada Eeteuk.

“Ne”

“Tidur di apartemenmu sendiri?”

“Hu um. Aku ada sdikit urusan”

“Apa yang kau maksud urusan itu melamun sepanjang malam di café sebelah timur sungai Han itu? Breeze café? ”

Eeteuk yang kaget dengan perkataan Eunhyuk menoleh padanya.
“Darimana kau tahu Hyuk?” tanyanya curiga.

“Apa kau mengikutiku?”

“Hyung, Kau kira aku tak tahu?” kata Eunhyuk kalem. Membuat Eeteuk semakin tercengang.

“Beberapa hari terakhir ini kau tidak pulang ke dorm. Ku kira kau ada di apartemenmu. Tapi waktu aku ke sana kau tidak ada. Akhirya kuputuskan untuk mengikutimu. Apa yang sebenarnya kau lakukan di sana Hyung? Kau terlihat seperti orang gila!”

“Jangan beritahu yang lain”

“Tak ada yang tahu. Cuma aku dan Yesung Hyung. Aku juga tak tahu Yesung Hyung bisa tahu darimana”

Keduanya terdiam, Eunhyuk menunggu barangkali Eeteuk ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi Eeteuk hanya diam, tak ingin mengucapkan sepatah katapun. Akhirnya Eunhyuk yang memulai percakapan lagi.

“Hyung. Kau sebenarnya ada masalah apa?”

“Tak ada”

“Gotjimal hajimayo Hyung. Kau tak mungkin bersikap seperti ini jika tak ada masalah”

“Sudahlah. Cepat pulang sana. Yang lain pasti sudah menunggumu”

Tak lama setelahnya masuklah Donghae dengan muka bersungut-sungut.

“YA! Hyuk jelek! Kau mau pulang tidak?! Kami sampai kering menunggumu di Lobby!”

“Iya iya! Sebentar lagi! Bawel sekali kau ini!”
Pletakk!!! Donghae menjitak kepala Eunhyuk.

“Kau pikir gara-gara siapa aku jadi bawel begini hah?! Ppalliwa!! Aku tunggu di bawah” Donghae berjalan keluar, lalu seperti mengingat sesuatu, dia kembali lagi dan menghampiri Eeteuk yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Hyung, taksi yang kau pesan sudah menunggumu di luar. O iya, jangan terlalu banyak minum dan begadang Hyung. Matamu terlihat makin cekung.” Katanya sambil menepuk bahu Eeteuk pelan lalu keluar.

Eeteuk kembali tertegun. Ternyata dongsaengnya bisa merasakan kalau ada masalah. Tapi mereka tak mengejar-ngejar dan bertanya, kecuali Eunhyuk, yang memang tidak sabaran. Dia sangat beruntung memiliki dongsaeng yang perhatian padanya.

Eeteuk merapikan semua propertinya dan bergegas keluar dari gedung. Hari ini dia akan menanti lagi. Menanti perempuan yang dicintainya. Hari ini dia harus bertemu dengan perempuan itu.

@ @ @
Breeze café, 09.00 PM KST.
Seorang pria berjalan menuju sudut café. Disana sudah duduk seorang pria lagi.

“Eeteuk-ssi, ini kunci mobilmu. Sudah kuparkir di depan café” kata pria yang ternyata pesuruh manajernya.
Eeteuk menerima kunci mobilnya.

“Gomawo Hyung” katanya sambil memberikan beberapa lembar ribuan won pada pria itu. Pria itu membungkuk dan pergi.

Eeteuk kembali larut dalam lamunannya. Sudah hampir tiga jam dia menunggu. Akhirnya perempuan yang ditunggunya tampak anggun berjalan mendekatinya. Raut wajah Eeteuk yang sebelumnya muram berubah menjadi cerah.

“Akhirnya kau datang juga, jagiya” kata Eeteuk tersenyum.
“Aku hanya punya waktu sepuluh menit. Apapun yang ingin kau katakan, sebaiknya katakan dengan cepat. Tak usah berbelit-belit” kata perempuan bernama Hyosung, kekasihnya. Eeteuk hanya bisa menghela nafas.

“Jagi, maafkan aku. Kumohon jangan marah lagi. Aku dengan Miss Korea itu tak ada hubungan apapun. Sungguh!” katanya sungguh-sungguh. Ingin sekali ia menggenggam tangan Hyosung, tapi tangan itu bersedekap rapi enggan disentuh.

“Tak ada apapun? Lalu apa yang kau lakukan di ulang tahun kedua kita? Kau lupa kan?! Kau  malah asyik sendiri di acara penghargaan dengan Miss Korea itu!” ucap Hyosung setengah menjerit.

“Aku tidak lupa jagi,, aku waktu itu ingin meneleponmu tapi keadaan tak memungkinkan. Harusnya yang datang ke acara itu Siwon, tapi kau tahu sendiri Siwon sakit. Jadi aku yang mengambil tanggung jawab sebagai leader”

“Dan kau meninggalkan kekasihmu seperti orang bodoh di sini. Menunggumu sepanjang malam, berharap kau akan datang dan tak mengulangi kesalahanmu tahun lalu. Terserah kau Leader Super Junior Eeteuk. Aku sudah lelah” tanpa terasa Hyosung meneteskan air mata.

“Jagiyaa,, kau boleh memukulku sesukamu, tampar aku kalau kau mau, tapi kumohon jangan menangis. Aku memang brengsek. Aku berjanji menjagamu tapi yang ada malah makin menyakitimu” Eeteuk  kebingungan melihat kekasihnya menangis.

“Sudahlah. Aku lelah. Pulanglah. Aku juga mau pulang”

“Hyosung-ah, aku tak akan pergi sebelum kau memaafkanku. Aku sangat mencintaimu Seo Hyosung. Kumohon percayalah padaku” katanya berlutut di depan Hyosung.

“Ya! Jungsoo. Apa-apaan kau ini?!” Hyosung kaget dengan perlakuan Eeteuk yang diluar dugaannya.

“Hyosung-ah, aku akui memang aku bodoh, tapi tanpamu aku takkan bisa hidup. Aku tak bisa melepaskanmu begitu saja. Kalau kau meninggalkanku, aku akan bernafas dengan apa?”

“Jungsoo-ya, sudah cepat bangun, orang-orang melihat kita” bisik Hyosung malu, tapi Eeteuk tetap di posisinya, malah mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna biru.

“Hyosung-ah, aku berjanji tak akan membuatmu menangis lagi. Maukah kau menikah denganku? Narang gyeorhonhae jullhae?” katanya sambil mengeluarkan cincin.

Hyosung yang sama sekali tak memperkirakan akan dilamar seperti ini tercengang.

“Jungsoo-ah…” bisik Hyosung pelan.

“Please, Seo Hyosung, be mine, be my fiance, be my wife”
Sekali lagi gadis itu meneteskan air mata. Luluh dengan ketulusan yang ditunjukkan Eeteuk. Gadis itu  mengangguk.

“I do” Eeteuk yang mendengarnya langsung menyematkan cincin pertunangan ke jari manis Hyosung dan memeluknya. Hmm.. Sungguh akhir yang bahagia.

Tanpa mereka sadari empat pasang mata memperhatikan mereka dari dalam mobil di seberang jalan.

“Sepertinya berakhir dengan baik” kata Eunhyuk yang disetujui Donghae.

“Ya sudah, ayo kita pulang” kata Sungmin sambil menepuk bahu Siwon yang berada di belakang kemudi. Mobil itupun melaju meninggalkan Breeze café dan dua orang yang sedang berbahagia di dalamnya.

@ @ @
Di tempat lain.

Sebuah apartemen mewah di pusat kota Seoul.
Perempuan berpakaian serba hitam itu mendekati meja resepsionis.

“Saya penghuni baru kamar 1005. Mana kunci saya”
Resepsionis yang kurang senang dengan perkataan perempuan itu memeriksa data penghuni kamar 1005. Namun wajah resepsionis yang awalnya cemberut berubah cerah ketika mengetahui siapa penghuni baru tersebut.

“Oh, jadi anda Soffie Hwang penulis novel terkenal itu? Selamat datang, semoga anda nyaman tinggal di apartemen ini” sambut resepsionis ramah. Perempuan itu hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya.

“Saya adalah penggemar karya-karya anda Soffie. Saya sangat menyukai cerita yang anda buat. Maukah anda menanda tangani koleksi saya?” resepsionis itu mengeluarkan sebuah novel berjudul Summer Breeze, novel terbaru karya soffie. setelah menandatangani novel itu Soffie bergegas ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa.

Sampai di depan kamarnya, Soffie tak langsung memasukinya. Dia malah berdiri memperhatikan kamar di sebelahnya, kamar nomor 1004.

Soffie berjalan pelan. Mencoba membuka pintu dengan mengetikkan sandi pengaman.

Cklek! Pintu terbuka. Senyum sinis terulas di bibir gadis itu.

“Cih! Ternyata kau masih sama, Park Jungsoo. Mudah sekali dibaca” gumam gadis itu lalu memasuki ruangan yang tak lain adalah apartemen pribadi Superjunior Leader, Eeteuk.

@ @ @
Di depan rumah Seo Hyosung.

“Kau yakin tak ingin menemaniku di apartemen?” tanya Eeteuk pada tunangannya lagi.

“Besok saja jagi, kau tahu kan, besok aku ada presentasi. Aku harus memenangkan tender besar itu” kata Hyosung.

“Baiklah, kau lebih mementingkan bisnismu daripada tunanganmu ini” Eeteuk mulai merajuk.

“Jagi, kau jangan mulai lagi deh, kalau kau main perhitungan aku bisa menyebutkan seribu dosamu padaku” Hyosung megancam sambil tersenyum.

“Iya iya jagi.. Aku kalah darimu.. Hehehe. Gag papa deh, yag penting hatimu sudah kuikat di sini” Eeteuk menunjuk jantungnya sambil tersenyum.

“Kau ini bisa saja… Kata siap….” Kata-kata sangmi tertahan oleh bibir Eeteuk. Eeteuk mencium Hyosung lama sebelum gadis itu kembali ke rumahnya.

@ @ @
Eteuk kembali ke apartemen pribadinya. Sebenarnya dia ingin kembali ke dorm agar dongsaengnya tidak menghawatirkannya, tapi ini sudah erlalu malam. dia takut akan membangunkan mereka, jadi dia memilih tidur di apartemen saja. Bagaimanapun hari ini sudah berjalan dengan baik. Masalahnya dengan gadis yang paling dicintainya dapat diselesaikan dengan baik.

Eeteuk merasa heran mengapa lampu di ruang tamunya menyala, padahal seingatnya dia sudah mematikan lampu kemarin. Ia menuju  ke ruang tengah. Tutuhnya tiba-tiba terasa membeku ketika melihat seorang gadis keluar dari dapurnya.

“Masih ingat padaku, Park Jungsoo?” kata gadis itu mendekati Eeteuk sambil membawa segelas jus jeruk.

“K..Kau??”

_to be continue_

skrip asli 3 September 2010
pindahan dari "rumah sebelah"