Saturday, November 19, 2011

WHITE RAINBOW (Secret: I love you after story)

Aku tertatih berjalan di belakangmu,
Menatap silau kepak sayapmu
Aku terjatuh di belakangmu
Sakit perih melihatmu terlalu jauh
Aku ini apa?
Aku ini siapa?
Aku hanya bisa menyertaimu
Menjadi kacung yang berkedok seorang sahabat
“Sahabat” yang berharap pada langit
Smoga suatu saat kan terjadi suatu keajaiban
Dan Tuhan memberiku sayap
Hingga aku bisa terbang bersamamu
Dan memberi warna pada pelangi yang mulai memutih
24 Maret 2007
Tubuh itu terbujur kaku. Cho Kyuhyun. Sahabatku, sahabat kami, telah pergi menuju kedamaian abadi. Meninggalkan semua yang mencintainya, meninggalkan semua permasalahannya, menggapai kebahagiaan yang kekal.
Gerimis mengiringi pemakaman Kyuhyun. Kulihat Omonim dan Ah Ra noona meratap di samping pusara Kyuhyun. Aku sungguh tak tega melihat mereka. Setelah beberapa bulan ditinggal Cho ahjussi kini Kyuhyun juga pergi meninggalkan mereka. Aku jadi teringat pesan Kyuhyun untuk menjaga Eomma dan Noonanya kalalu dia pergi. Kyuhyun-ah, kami berjanji akan selalu menjaga keluargamu. Seperti yag kau inginkan.
Aku mengedarkan pandanganku. Kulihat Ryeowook dan Sungmin juga tak dapat menahan air mata mereka. Aku mencari sosok Soffie. Tak kutemukan. Saat mendengar Kyu pergi hingga pemberangkatan jenazah sudah tiga kali Soffie pingsan. Ingin sekali aku menopang tubuh rapuhnya. Tapi dia bersikeras ingin sendiri. Ia memaksa ikut ke pamakaman, mengantar Kyuhyun ke pembaringan terakhirnya. Kami melarang karena khawatir dia akan jatuh lagi, namun peringatan kami tak lebih angin lalu baginya. Dan kini aku kehilangan dirinya.
Aku berusaha mencari sosok Soffie diantara pelayat lain. Nihil. Hingga kutemukan dirinya duduk di bawah pohon tak jauh dari makam Kyuhyun. Kuhampiri dia. Tatapannya kosong. Dia tak menyadari kedatanganku. Nyaris tak berkedip, bahkan tak mengeluarkan setetespun air mata.
Ya Tuhan, pemandangan ini lebih mengiris hatiku daripada pemakaman itu. ingin sekali kuhibur dia dengan kata-kata, tapi apa?? Mengatakan “uljima” saja aku tak bisa, karena dia memang tidak menangis. Aku hanya bisa memeluk dan mengelus rambutnya. Bagiku di pamakaman hari ini bukan hannya satu jiwa yang pergi, tapi dua, jiwa Kyuhyun dan hati Soffie.
@@@
“Donghae-ah, kau lihat Soffie tidak? Aku tidak bertemu dengannya sama sekali” tanya Sungmin saat kami berkumpul di studio.
“Aniya, mungkin dia masih terpukul atas kepergian Kyuhhyun” kataku sambil merapikan kertas-kertas partitur untuk latihan kami.
“Tapi ini kan sudah empat hari Hae, apalagi sudah mau ujian tengah semester. Dia tidak bisa larut dalam kesedihan terus-menerus” sambung Ryeowook khawatir.
Benar juga. Ini sudah empat hari Soffie tak muncul di kampus. Sejak ia pulang dari pemakaman Kyuhyun ponselnya tidak dapat dihubungi. Saat kutelepon rumahnya Sylvie noona selalu bilang Soffie sedang mengurung diri di kamar. Vie noona memintaku untuk datang dan membujuk Soffie keluar kamar, namun aku sangsi. Apa aku bisa melakukannya? Aku ini siapa di mata soffie?
“Hae! Kau mendengarkan tidak sih?!” suara Sungmin membuyarkan lamunanku.
“Hah? Mworaguyo?!”
“Waegeuraeyo Donghae-ah. Tak biasanya kau melamun saat latihan. Apa yang kau pikirkan?”
“Kyuhyun dan Soffie” jawabku jujur dengan mata menerawang senja dari jendela studio kami
“Donghae-ah, kita memang merasa kehilangan Kyuhyun, sangat malah. Tapi umur manusia bukan kita yang menentukan, tapi Tuhan. Jika kita benar-benar menyayangi Kyuhyun, kenanglah dia dengan senyuman Hae. Karena memang hanya kenangan manislah yang kita punya darinya. Aku yakin, dia pasti akan tersenyum dari surga” kata Sungmin bijak sambil menepuk pundakku.
Aku tersenyum datar. Memang teman, aku pasti akan mengenangnya sebagai salah satu sahabat sejatiku. Dan aku yakin dia sudah dapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Tapi bagaimana dengan soffie? sebenarnya yang lebih kupikirkan adalah Soffie, gadis yang sudah kucintai diam-diam selama bertahun-tahun. tapi aku tahu dia mencintai orang lain. Kini gadis yang kucintai kehilangan sayap kebahagiaannya. Bagaimana aku dapat membantu mengembalikan senyumnya? Jujur, aku rela menjadi Kyuhyun kedua jika itu bisa membuatnya tersenyum lagi. Itu kini yang menjadi pikiranku. Rahasiaku. Takkan pernah ada yang tahu. Karena ia tersimpan rapi di dalam hati.
@@@
Sepulang latihan aku menepati janjiku pada Vie noona untuk menjenguk Soffie di rumahnya. Sungmin dan Ryeowook tak dapat ikut karena mereka ada urusan.
“Donghae-ah, untunglah kau kesini. Tolong bujuk Soffie makan. Sepulang dari pemakaman sampai sekarang pekerjaannya hanya mengurung diri di kamar. Tak mau makan, tak mau bicara. Aku dan Hankyung oppa sangat khawatir dengan keadaannya” Sylvie noona menceritakan keadaan Soffie dengan mata berkaca-kaca.
“Berarti sudah lima hari dia tidak makan?” tanyaku khawatir. Sylvie noona menganggukkan kepala.
“Baiklah noona, aku akan bersaha membujuknya”
Kuketuk pintu kamarnya beberapa kali. Tak ada jawaban. Vie noona yang berada di sebelahku juga menggelengkan kepala pasrah, lalu pergi meninggalkanku.
Perlahan kubuka pintu kamarnya. Aroma wewangian aquamarine langsung menyambutku. Aku tak pernah masuk ke kamar ini sebelumnya. Tak pernah ada kesempatkan untukku untuk memasukinya. Kuedarkan pandanganku mengamati kamar ini. Dengan wallpaper berwarna biru muda, dengan atap berlukiskan awan-awan putih dan perabotan dari kayu, seakan aku memasuki sebuah taman di tepi pantai. Menyejukkan sekali. Namun sungguh kontras dengan pemilik kamar ini.
Kutemukan sosok Soffie sedang duduk memeluk kedua kakinya di sudut kamar. Di depannya berserakan kertas-kertas lusuh berwarna biru, juga foto-foto. Kulangkahkan kakiku mendekatinya. Aku berusaha membuat suara dengan langkah kakiku dengan harapan dia akan mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang. Tapi sia-sia. Kepala itu terus tertunduk hingga aku sampai tepat di depannya.
Kulihat dia dari dekat. Mukanya begitu sayu, tangan yang kuketahui begitu senang menulis puisi itu kini menggenggam erat kedua kakinya. Kulit yang dulu cokelat bersinar kini terlihat sangat kuyu.
“Soffie-ah, nawasseo..” kataku sambil berjongkok di depannya. Tak ada jawaban. Sepertinya suaraku dianggap udara yang lewat.
Aku mengguncang bahunya. Dia mengangkat kepalanya beberapa detik kemudian menunduk lagi. Aku tak ingin memaksanya. Kubiarkan dia sibuk dengan lamunannya beberapa saat lagi.
Kurapikan serakan foto dan kertas di depannya. Hmm.. foto Kyuhyun mulai sma sampai perguruan tinggi. Tak kusangka dia begitu rajin mengumpulkan kenangan-kenangan tentang Kyuhyun. Kertas-kertas itu ternyata berisi puisi-puisi Soffie untuk Kyu. Kubaca puisi itu satu per satu. Tanpa sadar Soffie mendongakkan kepala melihatku yang membaca puisinya. Kudengar dia berkata lirih
“jangan dibaca…” aku tersentak. Akhirnya dia merespon keberadaanku,
“Soffie, wae geuraeyo?? Kenapa kamu seperti ini?! Kyuhyun pasti tidak suka melihatmu jatuh sampai begini”
“….”
“Soffieeee….”
“….”
“Soffie!! berhentilah bersikap kekanak-kanakan!! Kau pikir hanya kau yang kehilangan Kyu Hah!! Aku juga! Kita semua kehilangan dia! Tapi kita juga punya kehidupan sendiri! Sekarang sudah bukan saatnya lagi bersedih! Lihat! Kau membuat semua orang mengkhawatirkanmu! Sampai kapan kau akan membebani orang-orang dengan sikap konyolmu?!!” aku sudah tidak tahan lagi. Kuguncang bahunya keras-keras. Aku sudah tak tahu lagi harus menghadapi dia dengan cara apa. Aku ingin dia kembali hidup. Aku ingin hatinya kembali. Kyu, bantu aku dari atas sana.
“pergi…”
“Hah?” aku tak percaya kata-katanya. Dia menyuruhku pergi?
“pergi…”
“Baiklah kalau itu keinginanmu. Aku pergi. Mungkin bagimu aku bukan siapa-siapa. Tapi kau masih sahabatku. Kau sangat penting bagiku. Aku yang bukan siapa-siapa ini berlutut memohon padamu kembalikan Soffie yang kukenal dulu”
Aku berdiri dan meninggalkannya. Di depan kamarnya tak terasa air mataku sudah tak dapat kubendung lagi. Vie noona mengelus pundakku. Kami berdua menangis dalam diam.
@@@
Sungmin dan Ryeowook berlari tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit.
“Donghae, ada apa ini sebenarnya?” tanya Sungmin dengan nafas terngah-engah.
“Mollayo. Soffie tiba-tiba pingsan dan hidungnya keluar banyak darah. Sekarang dokter sedang memeriksanya”
Vie noona yang mendengar penjelasanku semakin terisak di samping Hankyung hyung. Kami semua terdiam sambil berdoa pada Tuhan semoga tak terjadi apa-apa padanya.
Tak lama keluarlah dokter yang menangani Soffie. Dokter menghela nafas panjang membuat kami semakin gelisah.
“Dokter, bagaimana keadaan adik kami?” tanya Hankyung hyung.
“Tekanan darahnya menurun drastis dan suhu badannya naik hingga pembuluh darahnya pecah. Nona Soffie termasuk orang yang kuat. Saya heran, tekanan darah 40 per 30 masih bisa bertahan”
“Tapi tidak ada suatu yang bahaya kan dok?” Vie noona ikut bertanya.
“Syukurlah keadaannya sudah tidak mengkhawatirkan. Pesan saya tolong dijaga kondisi kejiwaannya. Jangan sampai nona Soffie stress lagi” kata dokter lalu pergi meninggalkan kami.
Terima kasih Tuhan. Kau mendengarkan do’a kami.
@@@
Keadaan Soffie kini membaik. Hari ini hari pertamanya ke kampus setelah beberapa lama absen. Aku bertugas menjemput dan mengantarnya pulang. Akhirnya. Aku mendapat kesempatan ini. Aku tak akan menyia-nyiakannya.
“Annyeong nona cantik, sudah siap?” kataku tersenyum saat melihatnya keluar dari rumah.
Gadis itu hanya tersenyum dan masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa. Tak apa Soffie. kau boleh tak bicara padaku kalau memang sedang tak ingin bicara. Aku akan menunggu hingga kau bisa bercerita tentang segala hal padaku. Aku pasti menunggu hingga pelangi putih di hatimu kembali berwana.
@@@
“Soffieee.. Akhirnya kau datang jugaaaa” Sungmin dan Wookie bergegas memeluk Soffie bergantian.
Terbersit rasa tidak suka dalah hatiku. Aku tidak mau dia disentuh oleh laki-laki lain, meski itu sahabatku.
“Ya! YA! Sudah peluk-peluknya! Ayo latihan! Latihan!” kataku sambil menarik mereka menjauh.
“Donghae-ah, kau punya pulpen? Pulpenku tiba-tiba habis dan aku tidak membawa cadangan” tanya Soffie mendekatiku.
“Ah iya. Ambil saja di tasku”
Gadis itu mencari-cari di dalam tasku. Kemudian tiba-tiba diam terpaku. Aku yang heran langsung menghampirinya.
“Bagaimana, ketemu pulpennya?” tanyaku mendekatinya.
“Donghae, apa maksudmu?” katanya menyodorkan selembar kertas padaku.
Degg!! Bagaimana bisa dia menemukan catatanku? Sial! Aku sungguh ceroboh!
“Tunggu, aku bisa menjelaskan semua ini” Gadis itu tak mendengarkan dan langsung menghilang pergi.
“Soffie!!” aku berteriak memanggilnya. Percuma.
“Ada apa?” Sungmin menghampiriku. Diambilnya kertas dari tanganku. Dibacanya. Dia menepuk pundakku pelan.
“Mianhae” bisikku.
Aku menyukaimu, mencintaimu sejak lama. Kau kira kau bisa menyembunyikan perasaanmu padanya dariku? Kau salah.. Meski mereka tak bisa melihatnya, aku dapat dengan jelas merasakannya. Perhatianmu, tatapanmu, perasaanmu, semua tertuju padanya, pada Kyuhyun, sahabatmu yang juga sahabatku. Tak tahukan kau aku juga ikut merasa sakit saat kau menangis untuknya.
Tak tahukah kau, di balik sosok Kyuhyun yang selalu mendapat perhatian lebih darimu, ada aku.Aku yang selalu menanti untuk kau sapa lebih dulu daripada dia, ada aku yang selalu menanti senyumanmu yang selalu kau berikan padanya, ada aku, yang selalu siap menjadi sandaranmu saat kau letih, saat kau berpura-pura baik-baik saja di depan Kyuhyun dan kekasihnya. Ada aku, yang hingga kini masih mencintaimu.
Tak bisakah kau menolehkan hati sedikit saja padaku? Tak bisakah aku menggantikan Kyuhyun di hatimu dan menjadi masa depanmu? Tak bisakah aku memohon sedikit kemurahanmu?
Jebal Soffie, jangan biarkan aku lebih tersiksa dari ini. Jangan biarkan aku tersiksa dengan melihatmu menyiksa dirimu sendiri, meratapi dia yang telah pergi dan tak kembali.
Tidak! Aku tidak boleh membiarkannya berakhir seperti ini. Aku harus menjelaskan padanya! Aku tak mau dia menjauh lagi dariku.
Aku bergegas lari keluar studio mencarinya. Tak kutemukan. Tiba-tiba aku melihatnya di seberang jalan.
“Soffie!! Tunggu!!” aku berlari menyebrangi jalan tanpa memperhatikan sekitarku hingga..
Tinn-tiiiiinnnnn… BRAAAKK!!! Dan semua berubah menjadi gelap.
@@@
“Donghae-ah, mianhaeyo.. Jeongmal mianhaeyo.. aku sungguh tak bermaksud menyakitimu. Aku tak menyangka kejadiannya akan sampai seperti ini” gadis itu menangis menggenggam tanganku. Dia mengkhawatirkanku. Aku merasa bahagia sekali dia seperti ini.
“Donghae-ah. Bangunlah!! Kumohon…”
“Soffie… Kau di sini?” aku memaksa mataku untuk terbuka, meski sulit. Aku ingin sekali melihat wajahnnya. Aku ingin melihat matanya yang khawatir padaku. Sudah lama aku memimpikannya.
“iya, aku di sini.” Dia menangis sambil tersenyum.
“Kau masih marah padaku? Maafkan aku Soffie-ah” aku berusaha keras mengelurkan suaraku, tapi yang terdengar hanya bisikan.
Soffie menggelengkan kepalanya.
“Aku sadar. Ternyata di sini ada orang yang sangat penting yang mencintaiku sepenuh hati. Aku tak boleh menyakitinya. Aku tak boleh kehilangan dia. Atau aku akan menjadi orang berdosa selamanya” katanya tanpa sedetikpun melepaskan genggamannya dari tanganku.
Aku tersenyum. Bahagia sekali rasanya hatiku.
“Jadi kau sekarang juga mencintaiku?” tanyaku berharap. Dia terdiam dan melepaskan genggaman tangannya. Kuraih kembali tangannya. Kini aku yang menggenggam tangannya.
“Baiklah. Aku akan menunggu. Aku pasti menunggumu. Sampai kau sendiri yang mengatakan kau membuka hati dan mencintaiku. Aku pasti menunggu saat itu tiba.” Gadis ini tersenyum. Manis sekali.
Kuhapus air mata dari pipinya.
“Tapi sebelumnya kau harus sembuh dulu” katanya tersenyum.
“EHEEMMM….uhuk..uhuk… Hattsiuuuhh” suara super duper aneh Sungmin membuyarkan adegan romantis kami. Kami baru menyadari ternyata tak hanya kami berdua di ruangan ini. Ada Sungmin, Ryeowook dan seorang suster yang sedari tadi melihat kami. Haish! Kalian ini mengganggu saja. Hahaha…
“Maaf, silakan kalian keluar dulu. Saya akan mengganti perban Donghae-ssi” kata perawat sambil tersenyum.
@@@
Di luar ruangan Donghae
“Soffie-ah, kau sungguh perempuan yang beruntung” kata Sungmin tiba-tiba.
“Ha?! Apa maksudmu? Aku tak mengerti yang kau bicarakan Sungmin” timpal Soffie.
“Kau sadar tidak? Tuhan telah mengirimkan pengganti Kyuhyun untukmu. Dialah Donghae. Yang dengan tulus mencintaimu. Kau bisa lihat sendiri di sini” Sungmin memberikan selembar kertas pada Soffie.
“Dia menulis sendiri lirik lagu ini. Waktu kami mendengar lagu ini pertama kali, jujur aku terharu hingga menangis. Aku bisa merasakan dalamnya perasaan Donghae untukmu” sambung Ryeowook yang disetujui oleh Sungmin.
Soffie membuka lipatan kertas dan membacanya…..
we each live in
two very different world
we only passed each other by once
afterwards, i waited for you like this from far away
when will my dream become real
will you even remember me
will you even remember my name
will you know that somebody kept praying you everyday
i envy you
someone like me is probably nobody special
maybe you already know
how happy a person you are
i thought that my feeling for you
will be buried away like nothing special
so i haven't sent you a letter
will you even remember me
will you even remember my name
do you know that you already mean a lot to someone
i love you
i become like this without myside knowing
maybe you already know
that after that day
i always stayed near
and watched over you
can't you love me?
can't you do so for just a day?
i know these are useless thought but
i wanted to ask you at least once
can i love you?
can't i love alone, even if you don't?
i know these are useless thoughts but
i wanted to ask you at least once
that i love you...
Soffie kembali melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam sakunya. Air mata membasahi kedua pipi gadis itu.
“Kalian benar, Sungmin, Wookie. Aku perempuan beruntung.” Sungmin dan Ryeowook tersenyum mendengarnya.
“Meskipun bukan sekarang, tapi aku pasti akan berusaha mencintainya. Suatu saat aku pastikan, aku bisa mencintainya sebesar dia mencintaiku. Aku berjanji pada kalian” kata Soffie tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Kami akan sangat menantikan saat itu tiba” kata Sungmin dan Ryeowook bersama-sama.
Dan mereka bertiga tersenyum.
_End_

Dongeng Pagi


Kemarin, di bukit ini aku mendengar pagi bercerita pada batu

Tentang seorang pujangga yang tak mampu mencinta

Raganya terkubur dalam-dalam

Dalam mantra yang tak sengaa tercipta olehnya

Tapi hasratnya masih terus berkelana, mencari seorang wanita

Perawan yang sebulan lalu menebas hati, jiwa, dan lehernya

Pagi bercerita, pada batu

Betapa sang pujangga melukis seribu puisi

Yang terukir di hamparan perdu, jati, mahoni, bahkan trembesi

Yang kata orang telah ratusan tahun berdiri

Hanya untuk wanitanya, yah, hanya untuk wanitanya

Wanita yag akhirnya memaksanya tunduk pada kehampaan

Aku masih mendengar pagi bercerita, pada batu

Sampai malam

Hari ini kudengar lagi, pagi berkisah pada batu, sperti kemarin

Masih tentang pujangga, yang kini tak lagi mencari

“Pujangga itu kini” kata pagi

Sedang duduk di atasmu mendengarku berkisah tentangnya.


Puisi begadangQ..(=,=”)
Pacet, 09 Desember 2009
@Penulisan kreatif Camp PR06 JBSI

Malaikat Tak Bersayapku





Kata Orang malaikat bisa terbang,
Malaikatku tidak, tapi dia mampu mengantarku ke surga

Kata orang malaikat punya sayap,
Tapi malaikatku,
Tak pernah kulihat sepasang sayap bertengger di punggungnya
Ah, mungkin tertinggal di surge

Kata orang malaikat itu kuat,
Ya, malaikatku juga, tapi tak selamanya

Malaikatku kini merapuh, sinarnya kini meredup
Suaranya yang dulu menenangkan, kini tinggal rintihan
Tangan yang dulu selalu memelukku, kini gemetar tak berdaya

Aku tak ingin malaikatku pergi,
Meski sejengkal dariku
Aku ingin kembalikan senyumnya, semangatnya
Meski ia tak bersayap sperti malaikat lainnya

Tuhan, Bantu aku mewujudkannya.

Pojok kelas JBSI lt.2, 30 Okto 2009
_tugas uts mk. Penulisan Kreatif_

Wednesday, November 16, 2011

One Fine Spring Day, Ceritaku Tentangnya

                        Ini kisahku. Tentangku yang sedang mencinta. Untuk pertama kali dan satu-satunya. Pada seorang wanita. Cerita ini dimulai saat aku mengejar mimpiku di negeri seribu budaya, Indonesia. Sebagai putra dari pemilik perusahaan besar di Korea memang aku harus mengerti sistem marketing di seluruh dunia karena aku dipersiapkan menjadi penerus pimpinan perusahaan. Saat semua orang menyarankanku untuk pergi mencari pengalaman ke negara barat, entah mengapa aku justru memilih Indonesia. 
       
       
      Kalian pasti tak tahu negara itu kan? Negara yang terdiri dari ribuan pulau itu terletak di benua Asia bagian tenggara. Dengan berbagai suku etnis dan budaya yang begitu mengagumkan. Aku mulai jatuh cinta dengan negara ini dari kegemaranku surfing di dunia maya. Aku pun segera mengajukan “proposal” untuk meneliti kemungkinan untuk mengembangkan perusahaan di sana, dan mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham.Petualanganku dimulai. Aku mulai menyurvei kota mana saja yang memungkinkan untuk didirikan cabang perusahaan kami. Jakarta, Medan, Yogyakarta, Bali, dan aku sampai di Surabaya. Kisah cintaku dimulai di Surabaya, yang kata penduduk asli adalah kota pahlawan. 
       
       
      Di sana, di salah satu café kecil di kota itu aku bertemu dengan seorang gadis manis. Gadis itu selalu berada di sudut café. Ya, gadis itu adalah pianis yang selalu menghibur tamu di café. Pertama kali aku melihatnya memainkan lagu Romance de Amor. Aku tersentuh. Dia memainkannya begitu sempurna. Saat memainkan tuts piano matanya seakan selalu tersenyum pada pangunjung. Dan aku selalu merasa dadaku berdebar saat mata kami bertemu. Tak kuragukan lagi. Aku sudah jatuh cinta padanya. Kuberanikan diri untuk mendekati dan menanyakan namanya. Kalian tahu apa jawabannya? Dia hanya tersenyum! Senyum yang sangat manis, tapi senyum itu juga yang selalu diberikan pada pengunjung lain. Tak berarti apa-apa. Saat aku mengenalkan namaku dia kembali tersenyum dan mengangguk lalu pergi masuk ke dalam ruang staf. Sial! Aku benar-benar terpesona. Tapi dia belum menjawab pertanyaanku. Ah mungkin dia malu. Aku akan menanyakannya lagi besok.
Tapi apa yang terjadi? Seminggu sudah aku melakukan hal yang sama dan tak ada hasil. Jawaban yang selalu kudapatkan darinya hanya seulas senyum. Aku sungguh tak mengerti apa maksudnya melakukan hal ini. Oh Tuhan, jangan katakan dia tidak bisa bicara! Tidak! Gadis secantik dan sesempurna dia jangan sampai tidak bisa bicara. Aku menanyakan pada pelayan dan pegawai café di sana. Namun aku juga selalu mendapatkan jawaban yang sama, mereka juga tidak pernah bicara pada Fie, nama gadis itu. ya Ampun! Aku dipermainkan oleh seorang gadis di negeri orang! Saat di negaraku sendiri namaku selalu dielu-elukan, selalu dipuja, dan para gadis selalu mengerumuniku seperti semut yang selalu tahu dimana letak gula. Belum pernah aku merasa begitu gila pada seorang perempuan seperti ini.



Esoknya dia memainkan instrumen dari lagu One Fine Spring Day. Aku tercengang. Dia memainkan lagu korea. Lagu dari negaraku. Aku mengenal pencipta dan penyanyi lagu itu. Ryeowook, sahabatku sendiri. Rupanya dia menyukai lagu sahabatku. Tanpa membuang kesempatan, aku menuliskan pesan di sebuah notes kecil dan kusuruh pelayan mengantarkan padanya. “To: Fie. Bolehkah aku ikut mengiringimu memainkan lagu itu? aku juga menyukainya. Itu lagu buatan sahabatku. By: Siwon”. Gadis itu tampak kaget lalu menoleh padaku. Sekali lagi gadis itu tersenyum dan mengangguk. Terasa seperti disiram hujan bunga hatiku melihat senyumnya, yang kali ini menurutku tak seperti senyum yang selalu diperlihatkannya ke pengunjung. Aku berjalan mendekatinya. Dia menggeser posisi duduknya dan memberikan ruang untukku duduk. Kami mamainkan lagu mulai awal lagi hingga lagu berakhir. Tanpa kami sadari ternyata semua pengunjung di café itu berdiri dan bertepuk tangan untuk kami. Aku merasa begitu senang. Dan gadis di sebelahku juga merasakan hal yang sama. Tiba-tiba kurasakan tangan yang hangat menggenggam tanganku. Tangannya!
Aku menunggunya hingga selesai bekerja. Aku tidak ingin menyiakan kesempatan ini. Dia sudah membuka diri untukku. Dan ternyata dia tidak bisu! Terima kasih Tuhan. Meskipun kata yang keluar dari bibirnya hanya beberapa patah kata saja. Paling panjang yang bisa kudengar hanya satu kalimat saja. Kami berbincang sepanjang malam itu, dengan cara kami sendiri. Aku berbicara, dan dia menulis, meskipun terkadang juga bicara. Ternyata selain pandai memainkan piano suaranya juga terdengar sangat merdu. Aku heran mengapa dia tidak pernah menyapa pengunjung dengan suara indahnya. Dia adalah anak dari seorang pelukis yang pernah terkenal di Surabaya. Dia mengalami kesulitan berbicara semenjak kematian ayahnya. Dia mengalami traumatis parsial karena melihat ayahnya meninggal tertabrak mobil tepat di depan matanya. Saat ia menceritakan kisahnya rasanya seperti aku juga ada waktu kejadian itu. aku juga seperti merasakan apa yang ia rasakan. Meskipun ia hanya menuliskan di notes yang selalu ia bawa. Aku mengerti sekarang mengapa dia tak pernah bicara dengan siapapun.
***


Dua bulan sudah aku ada di Surabaya. Aku memilih kota ini untuk pendirian cabang Hyundai Department Store dan Hyundai Korean cuisine. Dan proposal rekomendasi pun sudah ku kirimkan ke kantor pusat di Seoul. Aku tinggal menunggu hasilnya. Setiap hari aku selalu menyempatkan datang ke café dan menunggu sampai Fie, gadis yang berhasil mengobrak-abrik hatiku selesai bekerja dan mengantarnya pulang. Waktu kami untuk berbincang hanya selama perjalananku mengantarnya pulang. Semakin lama kami semakin dekat. Malam ini aku memberanikan menyatakan perasaanku dan memintanya untuk menjadi kekasihku. Dia menundukkan kepala dan kulihat butiran air mata menetes dari matanya. Tidak! Apa aku sudah berbuat salah? Apa aku terlalu cepat memintanya menjadi kekasihku? Apa waktu dua bulan itu terlalu cepat? Kuangkat dagunya sejajar dengan pandanganku. Kutanya apa ada yang salah. Dia menggeleng dan langsung memelukku. Dia menerimaku! Terima kasih Tuhan! Kukira tadi ada yang salah. Dia melepaskan pelukannya, kuhapus air mata dari pipinya. Wajahnya begitu halus, putih dan tak bernoda, dengan mata yang begitu bening dan memancarkan cintanya untukku. Kudekatkan wajahku, kukecup bibir mungilnya. Terasa manis sekali. Kukatakan padanya mulai malam ini dia gadisku. Dan aku miliknya. Wajahnya memerah mendengarnya. Aku yang semakin gemas kembali memeluknya. Aku yakin kalian semua pasti tahu bagaimana perasanku kan? Seperti berjalan-jalan di surga. Hahaha…
Seminggu sudah kami resmi jadi sepasang kekasih. Hari-hari kami lalui dengan begitu bahagia. Aku sekarang jadi pelanggan tetap di café tempatnya bekerja. Pemiliknya bahkan sampai mengenalku, karena Fie sering mengajakku bermain piano bersamanya. Begitu tahu aku akan mengembangkan perusahaan di Indonesia, pemilik café itupun mengajak perusahaan kami untuk bekerjasama. Akhirnya aku tidak hanya ke café itu untuk menjemput Fie, tetapi juga membicarakan tentang bisnis mendirikan cabang café.
***



Kalian tahu, aku begitu menikmati tinggal di kota ini sampai-sampai aku lupa kalau aku bukan warga negara di sini. Sampai suatu waktu, tepat satu bulan sebelum ulang tahun pertama hubungan kami, aku mendapatkan e-mail dari kantor pusat. Ternyata proposal yang kuajukan mendapat sambutan baik, dan aku diminta kembali ke Korea untuk membicarakan rencana perusahaan selanjutnya. Ini berita yang kutunggu, sungguh berita baik. Aku akan mengungkapkan rencanaku untuk mengajukan diri mengelola cabang perusahaan di Indonesia. Semoga mereka mengerti.


Aku berencana menceritakan berita bahagia ini padanya, Fie, malam ini. Aku mengajaknya makan malan. Gadis yang sedang duduk di depanku ini tampak cantik, seperti biasa. Dia mengenakan terusan merah muda yang kuhadiahkan padanya saat peringatan 6 bulan hubungan kami. Wajahnya tampak berbinar. Dia menuliskan sesuatu di notesnya. 
“Oppa, sepertinya kau sangat senang malam ini, aku jadi ikut bahagia…n_n”. Aku membacanya dan tersenyum. Sepertinya hari ini memang hari yang sangat baik.
“Aku punya berita baik, sayang. Proposal proyekku sudah disetujui! Minggu depan aku akan kembali ke Korea untuk membicarakan langkah selanjutnya. Akhirnya aku akan mempunyai perusahaan sendiri di Indonesia” ceritaku berapi-api. 
“Sayang, maukah kau pergi bersamaku ke Korea minggu depan? Aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku. Kita juga bisa sekalian merayakan hari jadi kita di sana. Aku ingin mengenalkanmu pada tempat dimana aku tumbuh” kataku sambil menggenggam tangannya. Kulihat raut wajahnya berubah, dia mengambil notes dan menuliskan sesuatu 
 “Oppa, sepertinya terdengar menyenangkan sekali, tapi maafkan aku. Aku tak bisa ikut denganmu”. Aku kaget. “Kenapa?” tanyaku padanya. Dia menuliskan lagi..
“Oppa, kau tahu aku sudah bermain piano sejak dulu. Aku baru saja mendapatkan tawaran bergabung dengan orkestra terkenal. Aku sudah menerimanya. Kami akan mengadakan tur keliling kota besar di Indonesia. Jadi aku tidak bisa pergi bersamamu ke Korea. Latihannya sudah dimulai bulan depan”.. Aku membacanya dengan perasaan tak menentu. Ternyata tak seindah perkiraanku. Ternyata dia sudah memiliki rencana lain. Hening beberapa saat lalu ia menyodorkan kembali notes padaku 

“Oppa maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Maafkan aku Oppa. Tapi ini impianku. Aku sudah lama menanti kesempatan ini”. Ternyata dia memendam impian seperti ini. Aku belum sempat mengetahuinya. Kekasih macam apa aku ini?! Kutatap wajahnya. Ternyata dia menangis. Dia begitu merasa bersalah. Kuhampiri lalu kupeluk dia erat “Tidak papa, sayang. Kau tidak mengecewakanku. Sungguh. Aku tak tahu kalau kau akan ikut tur” kataku mengelus punggungnya dan menenangkannya.
“Lagipula aku hanya akan pulang sekitar dua bulan. Setelah itu aku akan kembali lagi. Berjanjilah padaku kau akan menungguku” kataku menghadapkan wajahnya tepat di depanku. Dia mengangguk. “aku akan selalu menunggumu” bisiknya lembut.


Seminggu ini kami lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi kurasakan Fie semakin manja padaku. Aku bahagia sekali. Dia kini sudah berani mencium pipiku saat kami sedang asyik nonton di 21, menyuapkan makanan padaku di tempat umum. Tertawa lepas saat aku melucu. Ah, aku semakin merasa berat hati meninggalkannya. Malam terakhir sebelum aku pulang ke Korea Fie memberikan hadiah terindah untukku. Di café tempat ia bekerja, dia menyanyikan One Fine Spring Day milik Ryeowook.
Geu nal cheoreom
Ttatteuthan baram bulgo
Geudaega sarang hadeon
Hwabunen kkochi pigo
Oenou saenga bom nari
Deuriwodo ajikdo nan
Gipeun gyeo uljameul jago shipeoAju meollli, aju meolli
Geudaega inayo sashil nan
Geudaega maeil geuri unde
aju jageun, aju jageun
Saso han geoteuredo maeil
Geudaega saeng gagi na
Bangan gadeuk nama
Wirohe judeon geudae hyang giga
Kkossoge da heuteojyeo
Eonjenga neun
Neukkilsu Eobseulkka bwa
Geudae Iteon gong girado
bujaba dugo shipeo
Aju meollli, aju meolli
Meon gose inayo
Sashil nan
Geudega maeil geuri unde
aju jageun, aju jageun
Saso han geoteuredo maeil
Geudaega saeng gagi na
Haruga myeo dari dwego
Eonjen ganeun
Nae mamedo oneul gateun
Saebomi oltende

A warm wind is blowing like it was that night. The flowers you lovingly planted have bloomed. Before I know it springs has come again. I still want to deeply sleep like it’s winter.
You’re so vey far, so very far. To be honest I miss you every day. Even the very small, very small trivial things make me think of you every day.
A day becomes months. It seems that even in my heart too a new spring has come…
You are in such a far away, far away, far off place. I believe to you every day is a spring.
On a far off day, a very far of future, if you see me again. Tell me we were always together


Suaranya mengalun sangat indah diiringi dentingan piano yang dimainkannya. Tanpa sadar semua pengunjung café, yang rata-rata memang sudah menjadi pelanggan dan menyukai permainan Fie, dibuat tercengang. Seiring berakhirnya lagu semua pengunjung berdiri dan memberikan applause meriah untuknya. Ah, aku bangga sekali pada gadisku ini.


Di depan rumahnya saat aku mengantarnya pulang dia mencegahku waktu aku mau masuk mobil. Dia menarikku merapat padanya. Dia menyentuhkan bibirnya yang gemetar ke bibirku. Untuk pertama kali sejak kami berpacaran inilah pertama kalinya dia yang berinisiatif menciumku, tepat di bibir. Aku sangat kaget tapi juga bahagia. Banyak sekali kejutan-kejutan indah yang kuterima darinya hari ini. Kami berciuman sangat lama malam itu. seolah tak ingin waktu berjalan.


Saat akan mengantarku ke bandara kulihat wajahnya pucat pasi dan tubuhnya terasa begitu lemah. Kutanya apa dia sakit, dia hanya berkata kurang tidur karena memikirkan aku yang akan kembali ke Korea. Hmm.. Betapa manisnya gadisku ini, kupeluk ia erat dan kuminta ia berjanji setiap hari menghubungiku. Dia mengangguk. Saat aku beranjak menjauh darinya samar-samar kudengar dia membisikkan sesuatu, tapi aku tak yakin apa, dari gerakn bibirnya seperti ‘gyeseyo’…


Seminggu pertama sejak aku kembali ke Korea kami terus menjaga hubungan. Entah itu lewat telepon, email, messanger, apapun. Namun sejak minggu kedua aku kehilangan kontak dengannya. Nomornya tidak aktif lagi, setiap email yang kukirim tak pernah mendapatkan balasan. Sampai aku menghubungi café tempatnya bekerja. Kata pemilik café Fie sudah mengundurkan diri sejak aku kembali ke Korea. Ada apa ini? Perasaaanku semakin tak enak. Ingin sekali aku segera kembali ke Indonesia secepatnya, tapi perusahaan membutuhkanku. Aku juga harus memperjuangkan rencanaku mengajukan cabang di Surabaya.
Akhirnya aku hanya bisa kembali ke Indonesia mencarinya waktu akhir pekan saja. Dua bulan sudah aku pulang pergi Surabaya-Seoul tiap akhir pekan untuk mencarinya, namun masih tanpa hasil. Hingga suatu waktu aku mendapatkan telepon dari pemilik café kalau aku mendapatkan surat dari Fie. Tanpa pikir panjang aku langsung terbang ke Indonesia. Saat melihat raut muka pemilik café firasat burukku terasa semakin kuat. Si pemilik café mengatakan kalau dua hari yang lalu ada seorang wanita yang datang dan menitipkan sepucuk surat untukku. Tanpa pikir panjang langsung kubuka amplop berwarna biru muda itu..


Siwon Oppa,
Maafkan aku. Pergi tanpa pamit padamu. Aku tak ingin menyakitimu lagi. Sudah cukup rasa bersalahku melihat kau kecewa padaku sebelumnya. Oppa, mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi.
Oppa, maafkan aku sudah membohongimu. Maafkan aku yang egois ini. Maafkan aku yang telah jahat padamu. Oppa, aku tak secantik dan sebaik yang kau kira. Aku jahat. aku, telah memanipulasi hatimu untuk mencintaiku. Bukan kau yang jatuh cinta padaku, tapi akulah yang terlebih dulu mencintaimu. Kupikir kau tak akan tertarik pada gadis pianis café sepertiku. Saat kau menyatakan cinta, aku sangat bahagia. Aku sampai menangis dan dalam hatiku berterima kasih pada Tuhan atas hadiah indah ini. Aku berusaha tampil menjadi wanita sempurna di depanmu dan menutupi semuanya.
Aku tahu kau sudah sangat berbesar hati menerimaku yang berkebutuhan khusus ini, aku yang tak bisa bicara layaknya manusia normal. Aku tak ingin menambah kesedihanmu dengan mengatakan keadaanku sesungguhnya. Aku sungguh tidak ingin dikasihani, terlebih olehmu Oppa. Aku menderita sirosis, yah, kanker hati. Aku sudah mengetahuinya sejak tiga tahun yang lalu. Penyakit inilah yang juga membunuh ayahku. Ayah tertabrak mobil dalam perjalanannya mencarikan donor hati untukku. Akulah yang menyebabkan beliau kehilangan nyawa. Sejak saat itu aku sudah tak ingin berusaha untuk sembuh. Aku ingin penyakit ini segera merenggut nyawaku juga agar aku bisa segera bertemu ayah di Sana. Tapi semua berubah saat kau hadir Oppa. Kau memberikan alasan bagiku untuk hidup. Saat ada kau, aku mulai dapat lagi merasakan apa itu bahagia, bahkan dicintai. Terima kasih Oppa. Tanpa sepengetahuanmu aku mulai menjalani pengobatan lagi dan mencari informasi pendonor hati.
Kau tahu Oppa? Saat kau mengajakku ke Korea sebenarnya aku sangat ingin menjawab ya, tapi aku tak bisa. Karena di saat itulah aku juga mendapatkan kesempatan keduaku untuk hidup. Tentang tawaran pentas orkestra keliling kota itu bohong. Aku membohongimu. Yang benar aku mendapatkan pendonor hati, dan harus melakukan operasi secepatnya. Aku menggunakan alasan tur keliling kota untuk menghilang sementara darimu. Beruntung, nasib juga berpihak padaku. Kau harus kembali ke Korea. Jadi kau tidak perlu melihatku menderita di sini. Saat kau berusaha merintis usahamu di sana, aku juga berjuang di sini, berusaha mendapatkan kesempatan hidup bahagia untuk kedua kalinya. Meskipun kata dokter operasiku kali ini sangat terlambat dan kemungkinan berhasil hanya 20%. Tapi tetap kulakukan. Demi bisa hidup denganmu Oppa. Namun, jika surat ini sampai di tanganmu maka itu berarti operasi ini gagal.
Oppa, aku sungguh berharap kau tidak pernah membaca surat ini. Aku ingin hidup menjadi pendampingmu. Aku ingin mendengarmu bercerita tentang banyak hal. Aku ingin melihat tempat dimana kau tumbuh besar. Aku ingin mengenal keluargamu. Aku ingin melihatmu berhasil mendirikan perusahaan di Indonesia. Aku ingin memainkan piano bersama denganmu, menyenandungkan lagu-lagu cinta. Aku ingin memejamkan mata di malam hari bersamamu dan membuka mata di pagi hari di sampingmu. Inilah impianku sebenarnya. Tapi impian seperti itu hanya pantas diimpikan oleh gadis berhati suci, bukan gadis egois sepertiku.
Oppa, berjanjilah padaku. Setelah membaca surat ini kau harus segera melupakanku. Berjanjilah setelah ini, demi aku kau harus mendapatkan gadis yang seribu kali lebih baik dariku. Menikahlah dan hidup berbahagia tanpa harus mengingat aku. Cukup aku saja yang membawa cinta ini sampai ajalku. Tolong buat aku bahagia dengan melihatmu hidup bahagia. Saranghaeyo Siwon Oppa… Gyeseyo…
Yang selalu mencintaimu
Fie
Aku melipat kembali surat itu. entah sudah berapa puluh tetes air mata yang jatuh di sana. Jadi ini alasannya aku tidak bisa menghubunginya selama ini? Dia telah berpindah dunia. Meninggalkanku. Menuju ketentraman yang abadi. Aku hanya bisa berjanji, aku akan memenuhi permintaan terakhirnya. Aku pasti akan hidup bahagia. Namun tidak dengan wanita lain. Karena ruang di hatiku telah penuh olehnya. Tak ada sela lagi yang bisa dimasuki. Aku akan terus mengenangnya, menjadikannya kisah dan kenangan terindah dalam hidupku.
-End-

Full House 2 RESMI (mau) TAYANG

poster FH2
Akhirnyaaaaa.... Buat pecinta Kdrama khususnya Full House, penantian kita terjawab sudah. Full House 2 yang digadang-gadang sebagai sekuel dari Full House RESMI (mau) tayang!! Yeeeiyy..

Tanggal 15 kemarin Online Community Korea sono ada yang memposting foto diatas dengan judul ‘Drama ‘Full House 2′ Three Main Characters‘.

Sudah bisa dipastikan drama ini dibintangi oleh aktor No Min woo (yang sudah kita kenal melalui drama Pasta dan My Girlfriend is Gumiho), Hwnag Jung Eum (setahuku sih maskotnya reality show Love Letter season 2) sama Park Ki Woong.
Kalau dilihat dari fotonya yang bakal jadi 'yaoungjae' si Minwoo oppa yah. Kira-kira FH2 ini bisa menyamai suksesnya FH yang versi Song Hye Gyo sama Bi gak yah?? Let's hope aja :)


menurut sumber yang kubaca di Allkpop drama ini rencananya sudah tayang Maret tahun depan. Semoga cepet tayang di Indonesia juga. Mari nunggu berita aja dari stasiun tipi Lele terbang. hehehehe

Tuesday, November 15, 2011

Ayo Belajar Bahasa Korea :)


Pfiuh,, ternyata Blog ini masih ada yah... kirain dah 'ditelan' sama yang punya blogger =="

Ini adalah postinganku yang kedua *yang berjarak jauuuh banget sama postingan yang pertama*

kali ini aku pengen share tantang bahasa korea atau 한국어. Bahasa Korea menurut sejarahnya yang aku baca di berbagai sumber *cieeeh* Berasal dari rumpun bahasa Altaic barengan sama bahasa Mongolia dan Jepang. Nah, bahasa ini diciptakan pada pertengahan abad ke-15 dan saat ini pengguna bahasa Korea diperkirakan mencapai 73 juta orang di seluruh dunia *masih kalah sama Indonesia hehe :)*

Unsur bahasa korea sendiri terdiri atas 4 pembentuk, yakni:
1. 14 huruf konsonan tunggal
2. 10 huruf vokal tunggal
3. 5 hururf konsonan rangkap
4. 11 hururf vokal rangkap





Naahh,, ini ada video perkenalannya yang aku comotin dari Easy Korean. Enjoy :)