Monday, April 14, 2014

Aditya Madya Prakarsa. Sebuah goresan tentangnya

Aku merindukan saat itu. saat bersamanya. Seorang saudara yang kini berada di surga, semoga. Aditya Madya Prakarsa, namanya. Penopang, sahabat, kakak tercinta.

Bertemu dengannya saat SMA. Merajut kisah dengannya hingga hembus nafas terakhirnya. Tak terhitung peristiwa menyenangkan, menegangkan, mengharukan, kebodohan, dan kekonyolan yang sudah sadar/ tak sadar telah dilalui bersamanya.

Betapa aku merindukan saat kami menjadi bocah autis bersama, manulis berlembar-lembar puisi berantai ditemani sebungkus besar Lays dan kokakola di depan kos Kertajaya. dari pagi hingga petang. mengenang, menertawakan kekonyolan-kekonyolan kami semasa SMA, mencegat setiap penjual makanan yang lewat depan kos-kosan.



Aku juga merindukan kebodohan dan kekonyolan kami saat bersama menjelajah belantara Surabaya, menginvasi satu studio radio ke studio lainnya. Mulai dari EBS  bertemu dan merayu menggila minta foto bareng Koko Yo, Micky, Jova dan Rudy, ke DJFM, sampai nyasar di Istara. Juga kebodohan kami yang berniat menuju Galaxy mall tapi berakhir di Tanjung Perak #ngak.

Aditya Madya Prakrsa. Tanpa terasa banyak kenangan yang telah terukir di hati. Saat kuingat lagi, masa terdekat kita justru dimulai setelah kita lulus Sma. Saat aku berada di tempat yang baru, tak mengenal siapapun, kau hadir memberi penguatan, mengatakan semua akan dan selalu baik-baik saja. Sabar, karena buah manis dari kerja kerasmu sebentar lagi pasti terasa.

Aku juga merindukan segala olok-olok dan cemoohmu tentang kisah cintaku yang lalu. Kau mengatakannya dengan gamblang, selalu, tanpa tedeng aling-aling, langsung dan tak peduli jika perkataanmu membuatku tersinggung.

Ya. Kau tak peduli, katamu. Lebih baik memberiku obat yang pahit dari awal tapi menyembuhkan daripada madu beracun yang bisa membunuhku. Dan perkataanmu benar. Aku tersakiti. Kau selalu benar. Kecuali satu. Kau akan selalu menjadi orang bodoh saat menghadapi cintamu sendiri. Kau bersikeras mencintai wanita yang jelas-jelas selalu menyakitimu, dan aku benci itu. Aku benci saat kau disakiti, aku benci saat kau berpura-pura tersenyum menutupi lukamu. Karena aku tahu kau tak layak mendapatkannya. Karena aku tahu kau orang baik, kau orang yang berharga.

Tapi kini aku yakin. Di sana kau takkan merasakan luka itu lagi. Kau tenang menikmati kahidupan barumu dan tersemyum bahagia melihat kami yang menyayangimu, mendoakanmu di sini. Ya, aku yakin. Karena kau putra yang baik, saudara yang baik, sahabat yang baik. Aditya Madya Prakarsa :)

3 comments:

  1. Baca ini, aku jadi nangis,,, terharu iya, kangen juga iya,,, tapi lebih - lebihnya karna ternyata, aku g punya kenangan apa - apa sama adit, Hiks....

    ReplyDelete
  2. @cemeit iyuu met.. kmaren itu pas bikin ini pas lagi penuh2nya ni perasaan kangen sedang waktunya ga pas bgt buat ke makam dia. jadi isa bikin ini aja :')

    ReplyDelete
  3. Iyyah,, dakku malah blom pernah ksana lagi.... kalo lagi kangen cm kirim doa sama inget2 jaman2 skolah. hehe...

    eniwey, aku coba klik username kku dari sini koq isa yyagh buk....
    apa connection problem kali tadi....

    ReplyDelete